24 November 2011

Menelusuri Akar Konflik Palestina-Israel

Sekali lagi Israel menunjukan pengohannya. Dan lagi-lagi dunia diam dan hanya mengutuk. Tak terkecuali Dunia Islam. Penyerangan kapal bantuan oleh Israel benar-benar telah membuka mata kita bahwa Israel sudah sangat jauh mencengkram dunia. Mungkin ini bukan yg terakhir kali.

Ke depan, sangat mungkin Israel akan menunjukan kekuatan dan kepongahan pada dunia dengan menyerang tidak hanya sarana lain tapi juga negara yg dianggapnya jadi penghalang. Meski ini sudah dilakukannya lewat tangan sekutunya atau lebih lebih tepatnya budaknya Amerika.

Israel benar-benar tidak ingin Palestina hidup. Meski sudah melakukan bombardir, penggusuran, pembunuhan, penculikan, da aksi biadab lainnya, israel masih belum puas. Palestina benar-benar ingin dihapuskan dari peta dunia melalui pembersihan pendudukanya baik langsung maupun tidak langsung.

PBB, Liga Arab, dan badan-badan dunia lainnya seolah tidak berdaya menghentikan kebiadaban Israel. Bahkan mengecam pun terkesan ragu-ragu dan takut. Padahal jika dilihat dari sisi kelahiran, israel adalah negara muda yang baru lahir tahun 1948. Untuk negara muda yang belum genap 100 tahun, belumlah senekad dan sebiadab saat ini. Disinilah masalahnya.

Israel bukanlah negara muda. Cikal bakal kelahirannya sudah dirancang sejak tahun 1897 di Basel Swiss dalam Kongres Zionis Pertama. Kongres ini sebagai tindak lanjut dari doktrin-doktrin politik Theodore Herzl yang dituangkan dalam bukunya Der Judenstaat.

Prestasi dari kongres ini adalah sebuah kredo formal yang merupakan azas Nasionalisme Zionis atau Negara Israel itu sendiri yang berbunyi, ”Bahwa tujuan utama dari zioneisme adalah untuk menciptakan rumah bagi bangsa yahudi di Palestina yang terjamin dengan perundang-undangan.”

Untuk menjalankan tujuan ini tidaklah mudah. Mengingat negara tujuan zionis adalah negara sah, maka harus ada usaha-usaha yang signifikan untuk mewujudkannya.


Langkah pertama yang dilakukan oleh Herzl adalah mendirikan organisasi zionis yaitu The Jewish Colonial Trust (1898), The Colonisation Commision (1898), The Jewish National Fund (1901), dan The Palestine Land Development Company (1908).

Langkah selanjutnya membujuk Sultan Abdul Hamid agar mengizinkan kedatangan imigran Yahudi ke Palestina. Usaha ini gagal. Namun dengan makar, Sultan Abdul Hamid bisa ditaklukkan. Melalui tangan Mustafa Kemal Attaturk, Zionis berhasil menjinakkan sultan sekaligus menghapus Sistem Pemerintahan Khilafah.

Selain itu, secara terselubung, organisasi rahasia Yahudi yang disebut Freemason berhasil menciptakan semacam AD/ART untuk gerakan zionis sebagai panduan kerja. Panduan ini biasa disebut Protokol Zion. Dalam protokol inilah semua langkah-langkah kerja dirumuskan. Mulai dari menguasai pemimpin sebuah negara, menciptakan makar, adu domba, sampai ke penguasaan media massa.

Protokol Zion amat besar pengaruhnya terhadap kemajuan gerakan zionisme. Inggris sebagai negara adidaya saat itu berhasil dipengaruhi. Berkat usaha keras Dr. Chaim Weizman seorang pemimpin gerakan zionis yang juga dosen Ilmu Kimia Universitas Manchester, lahirlah Deklarasi Balfour. Pencipta acetone ini, yang kelak jadi presiden pertama israel, berhasil melakukan kontak dengan pejabat tinggi inggris dan mengajak meraka mendukung zionisme.

Deklarasi Balfour ini sebagai tonggak awal penguasaan zionis terhadap palestina. Pada tanggal 11 Desember 1917 Jenderal Allenby berhasil memasuki Kota Yuresalem dan di dalamnya masuk pula sukarelawan yahudi. Segera setelah itu, sebagai simbol kembalinya Spirit Judaisme di palestina, didirikan Hebrew University pada tanggal 24 Juli 1918 di Mount Scopus. Tempat dimana titus menaklukan Jerusalem pada tahun 69 M.

Zionis benar-benar memanfaatkan Deklarasi Balfour. Setelah Kongres Zionis Internasional pimpinan Weizmann, imigrasi yahudi ke palestina semakin digalakan. Langkah ini sebagai upaya memperkuat posisi Yishuv (komunitas yahudi di palestina). Setahun setelah kongres tersebut, jumlah yahudi di tanah palestina sudah mencapai 83.794 orang.

Meningkat pesat pada tahun 1931 yang mencapai 174.616 orang. Dan menjelang pembagian palestina oleh PBB tahun 1947, jumlah yahudi sudah mencapai 608.255 orang. Jumlah yang cukup banyak jika dibandingkan dengan penduduk asli palestina yang berjumlah 1.237.332 orang.


Jumlah masyarakat yahudi yang kian hari kian bertambah membuat mereka semakin berani. Dengan menggunakan taktik kekerasan dan teror, pada tahun 1939 mereka mengkonsolidasikan pengawasan dan penguasaan seluruh wilayah palestina dengan kekuatan diplomasi dan militer.

Praktik kekerasan dan terror ini, selain berlandaskan Talmud, juga menerapkan Teori Zionisme Revisionis Vladimir Jabotinsky (1880-1940). Teori ini dimuat dalam bukunya The Iron Wall yang juga memuat essai dasar bagi seluruh gerakan Zionis. Dalam buku tersebut, Jabotinsky secara jelas memuat kembali ide-ide zionisme yang pernah diletakan oleh Herzl dan tokoh zionis lainnya menski secara samar. Buku ini diterbitkan pada 4 November 1923.

Jabotinsky memandang zionisme sebagai sebuah imperialisme dari sisi yang realistis. Mengingat negara tujuan mereka adalah negara sah secara hukum. Maka merebutnya tidak bisa dengan kerjasama atau rekosialiasi melainkan dengan kekuatan dan teror. Ia menulis, “Tidak akan ada pembahasan tentang rekosialiasi sukarela anatar kita dengan orang-orang arab. Tidak untuk sekarang dan tidak untuk masa akan datang.

Semua orang yang berakal sehat, kecuali mereka yang buta sejak lahir, sejak lama telah memahami kemustahilan untuk bisa mencapai suatu kesepakatan sukareka dengan Bangsa Arab Palestina bagi pengubahan palestina dari sebuah negeri arab menjadi sebuah negeri dengan mayoritas Yahudi. Masing-masing dari kalian memiliki pemahaman umum tentang sejarah kolonisasi. Coba temukan satu contoh dimana kolonisasi sebuah negeri terjadi dengan persetujuan penduduk asli.”

Kekerasan dan teror yang diciptakan zionis terbukti ampuh. Ketika Deklarasi Balfour diresmikan, zionis baru menguasai 2,5 tanah palestina. Tahun 1947, zionis baru menguasai 6,5 persen. Namun pada tahun 1982 telah melonjak menjadi 93 persen. Itulah sebabnya Roger Geraudy menyebut bahwa tidak benar Negara Israel dibentuk oleh PBB. Negera tersebut dibentuk melalui serangkaian kekerasan yang dilakukan kelompok teroris Haganah, Irgun, dan Stern.

Aksi teror juga tidak segan-segan dilakukan kepada Warga Yahudi. Teror tersebut dilakukan untuk memaksa Warga Yahudi untuk bermigrasi ke palestina. Di Irak, untuk memaksa warga yahudi irak bermigrasi, israel membom Sinagog Masauda Shem-Tov pada tahun 1951. Akibatnya, 3 orang tewas dan 24 luka-luka. Cara ini terbukti berhasil memaksa yahudi irak bermigrasi ke palestina. Aksi-aksi semacam ini juga terjadi di belahan dunia lainnya.

Teror-teror yang diciptakan zionis terhadap warga palestina untuk mengusir mereka keluar memaksa Majelis Umum PBB mengeluarkan Resolusi 181. Resolusi ini ditetapkan pada 29 November 1947 yang berisi pemisahan Wilayah Palestina yang dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama wilayah israel yang mencakup 57 persen dari total wilayah palestina. Bagian kedua wilayah Negara Arab Palestina yang mencakup 42 persen. Dan Bagian ketiga adalah zona internasional yang mencakup Jerussalem.


Resolusi ini memanfaatkan Amerika untuk menekan sejumlah negara anggota PBB diantaranya Perancis, Ethiopia, Haiti, Leberia, Luksemburg, Paraguaty, dan Filipina. Uni Soviet juga mendukung. Kalangan zionis memanfaatkan betul resolusi ini. Mereka menganggap pemisahan Palestina dan israel sebagai upaya legitimasi berdirinya negara Israel dan sifatnya mengikat. Puncaknya adalah berdirinya Negara Israel pada 14 mei 1948.

PBB tidak berdaya ketika Negara Israel dengan resmi berdiri. Padahal resolusi Majelis Umum PBB berbeda dengan Resolusi Dewan Keamaan. Resolusi Majelis umum sifatnya mengikat ke dalam dan bersifat saran. Namun sedikitpun PBB tidak melakukan tindakan dalam mencegah berdirinya negara israel dalam negara yang sah secara hukum internasional. Kalau pun ada, maka PBB akan terhalang oleh Hak Veto Amerika Serikat.

Teror dan kekerasan dalam bentuk agresi meliter israel ke wilayah palestina tidak akan pernah berhenti sampai israel benar-benar mewujudkan mimpi mereka. Menguasai seluruh palestina sesuai dengan janji Tuhan dalam Taurat. Bahwa tanah Palestina adalah “Tanah yang Dijanjikan” untuk mereka.

Klaim teologis ini berdasarkan Kitab Kejadian 15:18 yang berbunyi, “Pada hari ini Tuhan membuat perjanjian dengan Ibrahim melalui firman, ‘Untuk Tuhanmu Aku berikan tanah ini, dari sungai Mesir hingga sungai besar Eufrat’.” Dalam Kitab Yosua 21:43 dapat ditemukan hal yang senada, “Jadi seluruh negeri itu diberikan Tuhan kepada orang Israel, yakni seluruh negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah untuk diberikan kepada nenek moyang mereka.Mereka menduduki negeri itu dan menetap di sana.”

Dasar teoligis inilah yang akan diwujudkan zionis menjadi sebuah Israel Raya. Oleh Karena itu, siapapun yang ada dalam “Tanah yang Dijanjikan” ini harus dienyahkan. Apapun resikonya dan bagaimanapun caranya. Jadi, selama Israel Raya belum terbentuk, jangan pernah berharap Zionis menghentikan untuk selama-lamanya teror dan kekerasan dalam bentuk perdamaian dengan palestina. Israel akan terus melakukan upaya agresi sampai palestina benar-benar dihapus dari peta dunia.

Menurut Mahir Ahmad Agha dalam bukunya Yahudi, Catatan Hitam Sejarah, Yahudi yang merampas tanah Palestina sekarang adalah Yahudi Khazar. Yahudi ini tidak mempunyai pertalian apapun dengan Bani Israel. Mereka terdiri dari berbagai bangsa yang memeluk Agama Yahudi selama bertahun-tahun pengasingan seperti Yahudi Yaman, Yahudi Felasha, dan Yahudi Khazar. Pendapat ini diperkuat Arthur Koestler. Referansi terkuat yang ia pakai adalah laporan Unesco yang menolak dengan tegas kemurnian Ras Yahudi.

Orang-orang Yahudi Kuno yang disebut Dalam Al-Quran hampir dapat dikatakan tidak ada lagi kecuali beberapa gelintir. Kalaupun ada, mereka adalah Golongan Farisi dan Saduki. Sementara Golongan Esenes – golongan yang memegang teguh Taurat - bisa dipastikan sudah musnah. Karena golongan ini melakukan selibat – tidak menikah – sebagaimana Nabi Musa a.s. Besar kemungkinan Farisi dan Sadukilah yang bertanggung jawab menyebarkan Agama Yahudi ke selain Bani Israel. Merekalah yang menanamkan Yudaisme radikal kepada kaum di luar Bani Israel.


Perdamaian Semu

Upaya perdamaian dari beberapa negara dan badan dunia hanya mampu menghentikan sejenak agresi dan tindak kekerasan israel terhadap palestina. Sudah berkali-kali dilakukan perjanjian baik Oslo, Camp David maupun perjanjian damai lainnya. Berkali-kali pula israel mengingkarinya yang kemudian dilanjutkan dengan agresi meliter. Dan lagi-lagi dunia diam seribu bahasa.

Lumpuhnya negara dan badan-badan dunia ini tak lepas dari peran zionis dalam melaksanakan Protokol Zion. Protokol ini berperan penting dalam mengarahkan dunia untuk mendukung secara langsung maupun tidak langsung semua tindakan teror yahudi di palestina. Hampir seluruhnya isi protokol ini berbahaya. Salah satunya adalah butir tentang bagaimana yahudi mengendalikan sebuah negara. Pada Protokol X butir sebelas disebutkan, “Pada masa mendatang kita akan menentukan tanggung jawab presiden.”

Butir ini dengan tegas memberitahu kita bagaimana yahudi mengendalikan sebuah negara. Pada butir 13 dalam protokol yang sama disebutkan, ”… Kemudian mereka akan menjadi agen terpercaya menyelesaikan rencana kita tanpa terbongkar dan dari ambisi kekuasaan, misalnya, kepemilikan hak istimewa, keuntungan, dan kehormatan terkait dengan kantor presiden.”

Selain menguasai sebuah negara secara terselubung, zionis diperintahkan melakukan huru-hara dalam sebuah negara. Huru-hara ini dimaksudkan agar mereka sibuk dengan diri mereka sendiri dan melupakan apapun yang terjadi di luar. Dengan begitu tidak ada waktu untuk memperhatikan semua tindakan yang dilakukan zionis. Hal ini dengan tegas dituangkan dalam Protokol X butir 19 yang berbunyi, “Alangkah pentingnya mempersulit rakyat dengan pemerintah di semua negara, sehingga umat manusia benar-benar letih dengan pertikaian, kebencian, perjuangan, dengki, dan bahkan dengan menggunakan siksaan, dengan kelaparan, dengan suntikan penyakit, dengan keinginan.”

Agar tindakan-tindakan teror yang mereka lakukan tidak menjadi komsumsi public secara terang-terangan, Protokol mengaturnya. Pada Protokol XII Butir 4 disebutkan, “Tidak ada satupun pengumuman akan mencapai public tanpa control kita. Bahkan sekarang ini, semua artikel berita yang diterima oleh sebagian kecil agen, difokuskan dari seluruh bagian dunia. Agen-agen ini akan kita miliki sepenuhnya dan hanya mempublikasikan apa-apa yang telah kita tentukan.”

Untuk melindungi zionis sepenuhnya dari tekanan dunia, Israel menggunakan Amerika sebagai tameng. Sudah berkali-kali Amerika terbukti sebagai pelindung setia Israel. Beberapa resolusi Dewan Keamanan PBB diveto Amerika. Keberhasilan menggunakan Amerika sebagai budak Zionis tidak lepas dari peran lobi Yahudi di Amerika.

Martin Best, dan Irk Robb, dalam buku “Yahudi Amerika dan Pandangan Baru Kepada Struktur Sosial Amerika” memaparkan data-data infiltrasi Yahudi di dalam berbagai struktur AS, menulis sebagai berikut, “26 persen wartawan, analis, pejabat lembaga-lembaga politik sosial, termasuk di dalam pemerintahan AS dipegang oleh Yahudi. 59 persen dari para penulis dan para ahli hukum terbaik di New York adalah orang Yahudi.13 persen dari mereka, di bawah usia 40 tahun, memegang jabatan-jabatan penting di AS. 40 persen dari mereka juga hadir di dalam kongres AS. 7 dari 11 orang anggota Dewan Keamanan Nasional AS adalah Yahudi.

Fakta di atas menunjukan begitu kuatnya lobi israel di Amerika. Tak heran jika Amerika mati-matian membela pemerintah zionis israel. Kalau boleh dikatakan, Amerika adalah negara bagian israel yang terselubung. Oleh karena itu, mengharap perdamaian di tanah palestina sama halnya dengan mengharap oase di padang gurun. Amerika tidak akan pernah mau membela hak-hak palestina. Yang ada Amerika mendukung secara membabi buta.

Sekali lagi, konflik di tanah palestina tidak akan pernah reda sampai semua mimpi Zionis Israel terwujud. Negara dan badan-badan dunia lepas sepenuhnya dari pengaruh lobi israel. Dan ini tampaknya membutuhkan waktu dan pengorbanan yang cukup.

Dan satu hal, konflik yang berlatar historis teologis ini hanya akan berakhir dengan perlawanan yang berlandas historis dan teologis pula. Tidak akan pernah ada perdamaian abadi di palestina jika hanya mengharap dari diplomasi dan rekonsiliasi dari negara maupun badan dunia. Mustahil.

Supriyadi S. Si, Warga Lampung yang bekerja di NAD, Email: azizahazmin@gmail.com
ERAMUSLIM > ANALISA
http://www.eramuslim.com/berita/analisa/menelusuri-akar-konflik-palestina-israel.htm
Publikasi: Kamis, 03/06/2010 11:37 WIB

Melawan Hegemoni Yahudi

Hegemoni yahudi saat ini benar-benar fenomenal. Tidak ada satu negarapun yang tidak ada pengaruh yahudi. Tidak ada satu sendipun dalam kehidupan yang tidak dijarah yahudi. Guritanya sudah menjalar hingga ke sudut-sudut sempit sekalipun. Sehingga pergerakan mereka sudah sangat leluasa. Mereka dan seluruh anteknya bergerak tidak lagi sembunyi-sembunyi. Semua sudah dapat dibaca dengan kacamata biasa.

Bahkan dalam urusan menjajah palestina pun mereka sudah sangat berani. Sedikit sekali yang peduli – kalau bisa dibilang tidak ada – dengan seluruh sepak terjang mereka dimanapun berada.
Pertanyaannya adalah, mengapa mereka begitu sangat fenomenal seperti sekarang ini ? Jawabannya sederhana. Wahn. Penyakit inilah yang menyebabkan yahudi begitu sangat mudah melilitkan pengaruhnya pada dunia. Penyakit Cinta Dunia ini sudah diinformasikan Rasulullah SAW jauh-jauh hari sebelum ia meninggalkan umatnya menghadap Allah. Dari sinilah penyakit-penyakit lain bermunculan.

Bila wahn menjalar dalam darah seorang muslim, maka Allah bukan lagi satu-satunya Ilah dalam hidupnya. Allah perlahan-lahan akan digeser oleh duniawi yang begitu menyilaukan. Dan jalan kerusakan akan dengan mudah terbuka baginya. Rasa takut perlahan akan memudar. Dan puncaknya adalah lenyapnya kemampuan mengingat mati. Baginya dunia satu-satunya tempat meneguk seluruh kebahagian dengan gelimangan duniawi.

Melalui pribadi-pribadi inilah antek yahudi menusukan racunnya. Menebarkan ranjau-ranjau berbahaya. Dan bila wahn sudah akut dalam kehidupannya, maka dengan sangat mudah ia akan terperangkap. Perlahan-lahan namun pasti, mereka yang sudah masuk perangkap akan digiring menjadi domba-domba peliharaan yahudi. Merekalah yang akan menjalankan seluruh agenda tersembunyi yahudi.

Yahudi bukanlah makhluk tercerdas yang pernah ada. Mereka tidak berbeda dengan kita semua. Baik muslim, kristen, budha, hindu, konghuchu, maupun yang lainnya. Apalagi jika ditelusuri lebih jauh, yahudi yang tersisa sekarang bukanlah yahudi asli keturunan bani israel. Mereka keturunan Kabilah Tartar kuno yang hidup di Kaukus yang mengalami yahudisasi.

A. Koestler dalam bukunya “The Thirteenth Trible: The Khazar Empire and its Heritage, menunjukkan bahwa mayoritas yang menentukan Yahudi zaman sekarang ini bukanlah dari keturunan Bani Israel yang dulu pernah hidup di Palestina. Bahwa mayoritas Yahudi sekarang ini, mereka dari keturunan Yahudi Khazar, mereka aslinya dari kabilah Tartar Kuno yang hidup di kawasan Kaukas, yang pada abad ke-6 M mereka mendirikan kerajaan sendiri di wilayah barat laut dari laut Khazar (Khazwin). Pada abad ke-8 kerajaan ini mengalami Yahudisasi, hingga raja kerajaan ini yang bernama Polan masuk Yahudi pada tahun 740 M.

Kerajaan Khazar ini jatuh pada akhir abad ke-10 dan awal abad ke-11 di tangan kekuatan aliansi Rusia dan Bizantium. Selanjutnya orang-orang Yahudi menyebar di Rusia, Eropa Timur dan Eropa Barat. Sebagian dari mereka menatap di bumi Andalusia pada masa pemerintahan Islam. Setelah Andalusia jatuh ke tangan penjajah Spanyol, mereka orang-orang Yahudi ramai-ramai hijrah ke wilayah Afrika Utara hingga mereka mendapatkan perlindungan kasih sayang dari kaum muslimin di sana.”

Fakta ini bukanlah justifikasi bahwa yahudi keturunan bani israil lebih superior. Namun hanya sebatas fakta bahwa yahudi yang mengangkangi dunia saat ini bukanlah yahudi keturunan bani israil. Dan tidak ada kewajiban bagi kita menghormatinya. Selain itu, fakta ini menunjukan bahwa yahudi yang sekarang bukan tidak bisa dilumpuhkan. Meskipun guritanya sudah terlalu akut.

Karena jika melihat dari sepak terjang mereka, setidaknya ada beberapa senjata utama yang menjadi andalan yahudi. Pertama, Ekonomi. Ini adalah senjata utama mereka. Dengan kekuatan ekonomi, mereka bisa melumpuhkan siapapun. Tak terkecuali negara sekalipun. Ini dapat dilihat bagaimana mereka menggerakan revolusi perancis. Melalui kekuatan uang yang mereka punya, melalui dinasti Rothschild, mereka dengan mudah menjerat orang-orang berpengaruh dalam kerajaan. Dari tangan merekalah revolusi dimulai. Menguasai inggris raya dan Amerika.

Di Amerika sendiri, sebagian besar – jika bisa dibilang seluruhnya – pelaku ekonomi adalah orang yahudi. Sebagian besar dari mereka adalah pemilik modal. Tak heran jika seluruh media di amerika berorientasi zionis yahudi. Karena memang hidup dan tidaknya media di sana tergantung dari kantong pemilik uang yahudi. Jika mereka sedikit saja membangkang keinginan yahudi, aliran modal akan diputus. Dan itu artinya putus pula urat nadi media yang bersangkutan.

Dengan kekuatan uang pula yahudi mengikat leher senator-senator maupun presiden di amerika. Ebagaimana kita ketahui, setiap senator maupun presiden yang ingin melamgkah ke gedung putih haruslah melalui tahap kampanye. Tahap ini membutuhkan dana yang tidak sedikit. Celah inilah yang dimanfaatkan yahudi.

Terdapat 36 nama-nama penggalang dana kampanye bagi Obama yaitu: Sheldon Adelson seorang Republikan, neokonservatif dan seorang 'mega-donor', Sherry Lansing penggalang dana dan donatur utama Partai Demokrat, pernah menjadi perempuan pertama yang memimpin Paramount, salah satu studio film terkemuka di Hollywood, Eli Pariser memimpin situs MoveOn.org, situs advokasi online beraliran liberal yang menggalang dana untuk kandidat presiden dari Partai Demokrat, Penny Pritzker ketua nasional bidang keuangan kampanye Obama, seorang milyader berasal dari keluarga Yahudi yang dikenal kerap menjadi donatur besar, Denise Rich mantan istri milyader March Rich, seorang penggalang dana terbesar bagi Partai Demokrat, Barbra Streisand penyanyi terkenal yang menjadi ikon Yahudi-liberal dan penggalang dana bagi Yahudi, mendukung Obama dan berhasil menggalang dana sebesar 25.800 dollar dari kalangan selebritis Hollywood.
Dengan kekuatan tersebut, mereka dengan mudah membentuk bank-bank.

Dengan bank-bank ini mereka memberikan pinjaman yang sifatnya merugikan melalui konsep riba. Dengan riba ini mereka bisa menangguk keuntungan berlipat dan mengendalikan si peminjan dengan kebijakan yang berorientasi kepentingan global mereka.

Sampai saat ini kekuatan itu masih dengan tegap berdiri. Salah satunya yang paling berpengaruh adalah IMF. Lembaga yang satu ini benar-benar dimanfaatkan yahudi untuk mendikte negara donor. Dalam setiap penjaman, negara donor harus mensepakati letter of intent (LoI) yang isinya tentu saja sesuai kehendak donatur. Dan dengan ribanya, sebuah negara donor akan terus-menerus terikat secara ekonomi. Di sisi lain pemilik modal yahudi menginvestasikan modalnya di negara tersebut dan berusaha mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya. Akibatnya, perekonomian bukan semakin baik. Justru sebaliknya. Dan IMF kembali datang dengan topengnya seolah-olah penyelemat. Memberikan pinjaman kembali dengan bunga lunak.

Bisa di bayangkan, seberapa dalam negara tersebut terpuruk. Belum jika kita berbicara persentase dana yang dikorup pejabat.

Sampai saat ini IMF bercokol di banyak negara berkembang. Dan dapat dilihat, mereka yang menghiba dengan IMF selalu terkena imbas krisis. Baik krisis regional maupun global. Malaysia salah satu contoh negara yang tidak berhubungan dengan IMF melainkan IDB (Islamic Development Bank) tampak tidak begitu terpengaruh dengan krisis global saat ini.

Indonesia sendiri, sejak zaman soeharto sudah terikat kuat dengan IMF. Dan sampai saat ini, hutang tersebut masih mengikat leher bangsa kita. Entah berapa puluh tahun lagi kita bebas dari IMF. Dan celakanya, beberapa oknum dengan berani mengusung konsep ekonomi global dengan mengusung konsep American Consensus.

Ekonomi global yang dikembangkan yahudi benar-benar menguntungkan mereka. Melalui alat tukar uang kertas, mereka dapat dengan mudah mengendalikan perekonomian global. Padahal uang kertas sendiri di dalamnya sangat jelas mengandung konsep riba. Sebab nilai instrinsiknya berbeda dengan nilai ekstrinsik.

Arab Saudi tercatat negara yang nilai inflasinya 0 %. Selain kekayaannya melimpah, mereka menggunakan dinar dan dirham sebagai alat tukar. Walaupun dalam pasar global Arab Saudi masih menggunakan uang kertas real dengan kurs Dolar Amerika.

Oleh karena itu, satu-satunya jalan keluar dari kekangan hegemoni yahudi adalah keluar dari pasar bebas dan kembali ke konsep ekonomi islam dengan dinar dan dirham sebagai alat tukar. Atau paling tidak berhenti menghiba dengan IMF dan segera berpaling ke ADB.

Kedua, Pendidikan. Sebelum jauh yahudi menancapkan kukunya di palestina, mereka terlebih dahulu membangun Universitas Hebrew di sana. Yahudi tahu betul manfaatnya pendidikan. Selain itu, dengan iming-iming beasiswa, mereka merekrut sebanyak-banyak pemuda-pemudi islam yang potensial. Mereka diberi beasiswa dan semua fasilitas yang dibutuhkan. Namun dibalik itu, mereka menyimpan agenda terselubung. Yakni cuci otak. Atau paling tidak menjauhkan mereka dari millah islam untuk kemudian mengikuti millah kafir dan kalau bisa millah yahudi.

Sudah banyak contoh alumni luar negeri kita yang ‘kebelinger’ akibat studi di luar negeri. Celakanya lagi, mereka yang menerima beasiswa belajar adalah alumni perguruan tinggi islam. Mereka memperdalam islam bukan dari sumber islam semacam Al-Azhar melainkan universitas-universitas sekular. Bisa dibayangkan bagaimana hasilnya. Meskipun Profesor pembimbing mereka adalah profesor islam. Namun kebanyakan dari profesor tersebut adalah profesor pelarian yang salah jalan dan di deportasi dari alumni asalnya.

Padahal pendidikan memegang peranan penting dalam kedidupan. Rasul pernah bersabda: “Jika kamu mengiginkan dunia berilmu. Jika menginginkan akhirat berilmu. Dan jika menginginkan dua-duanya, berilmu.”

Dan kekalahan kita bukan karena Yahudi terlalu pintar buat kita. Melainkan kita yang mau dibodohi. Sehingga apapun yang ditawarkan tanpa filter dengan bangga kita serap dan telan mentah-mentah. Bukankan Allah sudah mengingatkan kita “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang pada mu sampai kamu mengikuti millah mereka.”

Dengan kepala yang kosong dari ilmu, yahudi akan sangat mudah mendikte dan menyeret kita ke dalam perangkap mereka. Dan dengan sadar dan bangga kita mengikuti semua millah mereka. Saat itulah kita akan sulit bangkit dan tahu bahwa yang kita banggakan adalah sesuatu yang justru berbahaya bagi kita.

Ketiga, Intelegen. Sampai saat ini, belum ada satupun negara atau badan yang mempunyai intelegen berbasis islam. Sejarah mencatat superioritas tentara islam saat itu. Rasul bukanlah anak manja yang harus selalu dibantu malaikat. Rasul bukan tipe demikian. Rasul tipe pejuang sejati yang tidak pernah merengek serta menggunakan semua kemampuan yg dimiliki. Dan perang tanpa inteligen sama saja dengan bunuh diri. Salah satu dari kemampuan itu adalah intelegen. Rasul punya intelegen yang sangat mumpuni. Terbukti seorang wanita yang mencoba mengirimkan surat ke makkah dalam rambutnya dapat diendus. Dan tanpa intelegen pula, maka hijrah rasul ke madinah tidak akan pernah berhasil.

Sayangnya umat islam belum mengembangkan ini. Sementara Mossad, CIA, KGB, dll benar-benar dimanfaatkan sebagai sarana menguasai lawan. Mereka bukanlah manusia-manusia super dan serba bisa. Kelebihan mereka hanya menghalalkan segala cara.

Iraq, afganistan, dan negara-negara lain yang dikangkangi amerika tidak lepas dari operasi intelegen. Mereka sengaja menagadakan spionase untuk kemudian menghembuskan kabar bohong dan fitnah pada dunia. Senjata pemusnah massal saddam sampai saat ini belum bisa dibuktikan kebenarannya. Lalu dari manakah Amerika bisa yakin bahwa senjta tersebut ada. Tidak lain dan tidak bukan adalah informasi intelegen.

Sekali lagi, intelegen mereka bukan tidak bisa dilumpuhkan. Hanya kita belum mau melirik ke arah sana sebagai sarana perlawanan. Saatnya intelegen islam bangkit. Setidaknya melawan usaha spionase pihak-pihak islamofobi terutama yahudi. Bukankah melawan pedang harus dengan pedang.

Keempat, Organisasi yang rapi. Syaidina Ali pernah berkata: “Kejahatan yang terorganisir akan bisa mengalahkan kebaikan yang tak terorganisir.” Yahudi memproklamirkan Israel Raya pada tahun 1948 bukanlah serta-merta. Usaha mendirikan negara tersebut jauh-jauh hari sudah diorganisir. Dimulai sejak tahun 1891 di bessel swiss. Melalui semua sayap organisasi yang ada mereka bahu-membahu membangun kekuatan. Dan kita, sejak runtuhnya khilafah, bagai buih di tengah laut.

Inilah beberapa hal yang menjadi kekuatan yahudi sekaligus kelemahan kita. Saatnya kita bangkit dengan kepala tegak melawan yahudi.

Dengan organisasi yang rapi dan menghilangkan semua perbedaan yang ada, kita bisa dengan mudah membangun kekuatan ekonomi dengan berpaling dari ekonomi kapitalis. Mengganti alat tukar dengan dinar dan dirham. Dengan ini dunia pendidikan akan sangat kita bangun untuk kemudian menggembleng putra-putri kita dengan ilmu yang bermanfaat dan menjauhkan mereka dari kerusakan akibat sistem pendidikan yang salah.

Saatnya kita bangkit. Menatap masa depan dengan penuh ridha dari Allah. Karena sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. Dimulai dari diri pribadi dan rumah tangga kita. Menanamkan La Ilahailallah yang sedalam-dalamnya pada diri pribadi, rumah tangga, dan lingkungan.

Melalui momen pilpres, kita harus bijak menentukan pilihan. Mana dari pilihan-pilihan tersebut yang beraliansi kemaslahatan umat. Mana pula yang beraliansi menuju kerusakan. Mudah-mudahan Allah menurunkan rahmat dan pertolonganNya pada kita. Allahu wa’lam bishshawab.

Supriyadi, S.Si, warga Bandar Lampung yang sekarang bekerja di Banda Aceh NAD sebagai dosen Perguruan Tinggi Swasta di Banda Aceh, Pemerhati masalah Timus Tengah
ERAMUSLIM > PEMUDA & MAHASISWA
http://www.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/supriyadi-s-si-melawan-hegemoni-yahudi.htm
Publikasi: Jumat, 05/06/2009 08:20 WIB

30 Juni 2009

Doa 3

Doa 3

Sayap-sayap malaikat mulai lunglai.
Mengusung dosa-dosaku menujuMu.
Namun tangan ini, lidah ini, hati ini, kaki ini .
Masih pongah dan bangga dengan dosa-dosa.
Asyik masyuk dalam kubangan murkaMu.
Dengan segala fasik dan nifaq.

Bibir ini kikir.
Tangan ini malas.
Kaki ini kaku.
Hati ini membatu.
Bahkan mulut ini gagu.

Aku tau.
Tempat ku pengap kelak.

Tubuhku, lidahku, hatiku tanganku dan semuaku.
Saksi ku...
Tapi enggan ini tetap membuncah.
Menyobek segala kemarahanMu.
Menutup segala rahmanMu.

Ya Rabb...
Aku mau pulang.
Berdiri dan menangis bersama kekasihMu.
Agar semuaku seragam.
Meneguk RahimMu.

Semoga kotor amiinku .
Lusuh sejadahku.
Hambar air mataku.
Menjadi tenaga malaikatMu.

Ya rabb...
Ya rabb...

Puisi: Hamba yang Lelah

Hamba yang Lelah



Doa 1

Kerling malam dulu.
Menutup ceria yang memantul pada pupil-pupil hati.
Sebab aku semakin dalam berpagut.
Dalam desah basah ceremoni dosa.
Berkamuflase dalam doa dan sejadah.

Dan kini...
Sayap-sayap malaikat mungkin sudah lelah.
menjinjing doaku pada mu Rabb...
Namun dalam air mata ini aku berharap.
Nadi ini, hati ini, darah ini dapat berbasuh.
menyingkap dalamnya kasihMu.
dalam tetes wudhu dan kemesraan dalam sajadah malam



Doa 2

meski jauh namun aku tetap mengejar...
matahari, sejadah, langit.
walau mungkin malam bergelayut mesra.
namun jemari ini masih tetap menggapai merayap...

ya rabb...
kembalikan aku pada cahayaMu.
sehingga aku dapat menatap kerangka-kerangka langit.
menyaksikan gerombolan doaku.
menutup malam yang mungkin terus menjalar.
dalam kotornya lidah, tangan, dan munafiq ku padaMU

07 Mei 2008

Jejak Yahudi Dewa & Ahmad Dhani

Katagori : Kritik & Investigasi
Oleh : Erros Jafar 22 May 2005 - 2:00 pm


imageKasus Dewa telah meninggalkan pertanyaan besar, sejak tanggal 2 Mei lalu seluruh pemberitaan mengenai kelanjutan kasusnya sepertinya masuk keranjang sampah tepatnya sejak budaya H. Ridwan Saidi melaporkan Dewa ke Kejaksaan Agung sehubungan temuan beliau bahwa album dewa menyesatkan dan memakai lambang lambang yang dilarang. Padahal masyarakat banyak yang menunggu kelanjutan dari hasil temuan temuan tersebut. Syukur alhamdulillah, pada edisi Mei 2005, majalah Saksi memuat artikel dan wawancara dengan budayawan H. Ridwan Saidi.

Penjelasan ini tentu saja sangat penting khususnya bagi H. Ridwan Saidi untuk menghindari tuduhan "Fitnah" dari group band Dewa.

Sangat menarik untuk kita telaah bersama, salah satu lagu berjudul "SATU" dalam album "Laskar Cinta" versi CD, di bawah lirik lagu ditulis Ahmad Dhani, "THANKS TO: SYEKH LEMAH ABANG", sementara untuk versi Kasetnya bertuliskan "THANKS TO: AL-HALLAZ" yang tak lain adalah nama lain dari Syekh Siti Jenar


SATU


Aku ini…adalah dirimu
Cinta ini…adalah cintamu
Aku ini…adalah dirimu
Jiwa ini…adalah jiwamu

Rindu ini adalah rindumu
Darah ini adalah darahmu

Reff :
Tak…ada yang lain..selain dirimu
Yang selalu ku puja…ouo…
Ku…sebut namamu
Disetiap hembusan nafasku
Kusebut namamu…
Kusebut namamu...

Dengan tanganmu…aku menyentuh
Dengan kakimu…aku berjalan
Dengan matamu…ku memandang
Dengan telingamu…ku mendengar
Dengan lidahmu…aku bicara
Dengan hatimu…aku merasa

Reff…Reff…Reff…Reff
"THANKS TO: SYEKH LEMAH ABANG"

Album DEWA 19 (1992)


Di cover depannya ada gambar piramid yang atasnya disamarkan, tapi jika diperbesar akan tampak ada sesuatu di puncaknya. Ini mirip dengan lambang gerakan rahasia Zionisme (Iluminati). Bandingkan dengan gambar piramid Yahudi yang terdapat dalam lembaran One Dollar AS

Album TERBAIK-TERBAIK (1995)


Terpampang simbol Dewa RA (Dewa Matahari Dalam Mitologi Mesir Kuno). Dewa Ra diklaim Yahudi sebagai salah satu dewa mereka. Di Sinagog lambang ini lazim dipajang.

Selain itu, dalam album yang sama ada pula gambar satu halaman Protocol of Zions dalam bahasa Ibrani. Ridwan Saidi (pakar Zionisme) yang menguasai bahasa Ibrani menegaskan, "ini jelas diambil dari satu gambar Protocol of Zions, karena diatas lembaran itu ada judul dan logo. ini tidak ada dalam Taurat ataupun Talmud".
Lalu ada simbol lingkaran dengan titik di tengahnya, dimana personil Dewa berdiri dibawahnya. Simbol ini lazim dikenal sebagai simbol Mata Setan yang menguasai dunia (evil eye), sebuah simbol Yahudi. Di bagian lain dalam album yang sama, simbol mata setan juga dimuat.

Album The Best of Dewa 19 (1999)


Di pinggiran discnya terdapat simbol panah dan garis lurus yang saling memotong spt salib. Lambang garis tsb sbenarnya sinar yang aling memotong. Ini salah satu simbol dari gerakan Freemansonry
Lambang sinar yang saling memotong ini secara "kreatif" juga terdapat dalam cover kaset bagian dalam dan depan secara keseluruhan.

Album Bintang Lima (2000)


Gambar sayap lazim dipakai sebagai salah satu simbol gerakan perkumpulan Theosofie Yahudi.

Album Cintailah Cinta (2002)


Cover depan album Dewa ini memuat secara mencolok simbol Eye of Horus. Horus adalah Dewa Burung dalam mitologi Mesir Kuno. sama spt Dewa Ra, Yahudi juga mengklaim Horus merupakan salah satu dewa mereka. Di cover dalam juga terdapat simbol yang sekilas mirip mata, tapi sebenarnya merupakan contekan habis salah satu simbol yang terdapat dalam buku The Secret Language of Symbol yang disarikan dari kitab Yahudi, Taurat. Simbol ini biasa disebut Femina Geni.

Masih dalam album ini, masih terdapat beberapa simbol-simbol mata, yang merupakan salah satu simbol Gerakan Freemasonry

Album Atas Nama Cinta I & II (2004)


Lambang sayap yang merupakan lambang resmi Dewa dimuat dalam album live ini dengan latar belakang hitan kelam.

Album Laskar Cinta (2005)


Ininlah album ketujuh Dewa yang akhirnya menjadi batu sandungan dan membuka selubung semua album-album Dewa sebelumnya yang sarat dengan kampanye simbol & lambang Yahudi.

Selain lambang Allah yang dimuat tidak sebagaimana mestinya, tipologi huruf "Laskar Cinta" pun mengambil dari pola huruf Ibrani

"Pola huruf tulisan Laskar Cinta diambil dari pola huruf Ibrani," ujar Ridwan Saidi seraya membuka kitab Taurat berbahasa Ibrani asli dari Israel.

Dibawah lagu berjudul "Satu" (album Laskar Cinta), berisi ajaran sesat yang mengatakan ada kesatuan wujud antara Sang Khaliq dengan mahluk-Nya. Dalam bahasa Syeh Siti Jenar atau Al Hallaj, paham ini disebut "Manunggal ing kawulo Gusti". Parahnya, ini seakan dibenarkan sendiri oleh Ahmad Dhani dengan menulis di bawah lirik lagu tsb dalam cover versi kaset, "THANKS TO: AL-HALLAZ".

Dalam album yang sama versi CD, di bawah lirik lagu "Satu", ditulis Ahmad Dhani, "THANKS TO: SYEKH LEMAH ABANG", yang tak lain adalah nama lain dari Syekh Siti Jenar

Siapakah Ahmad Dhani?


DHANI THANKS TO:.... JAN PIETER FREDERICH KoHLER (THANKS FOR THE GEN). Dhani berterima kasih kepada:....Jan Pieter Frederich Kohler (Terima kasih atas darah keturunannya)

Merunut dari silsilah keluarga,
Jan Pieter Frederich Kohler adalah kakek Dhani (dari pihak Ibu) yang berkebangsaan Jerman. "Kohler" adalah nama keluarga, sejenis marga. Jadi jelaslah, Dhani punya kebanggaan akan darah darah keturunannya itu," ujar pengamat Zionisme H. Ridwan Saidi.

Bisa jadi, sebab itulah dalam berbagai kesempatan show-termasuk ketika manggung di Trans TV yang menginjak-injak karpet dengan motif logo Allah yang kontroversial itu, Ahad (10/4)- Dhani Dewa mengenakan kalung Bintang David, simbol Zionis-Israel.

Bermula dari kasus kontroversial logo Allah, terkuaklah misteri dibalik (Dhani) Dewa

Dalam album-album Dewa, bertebaran gambar dan simbol-simbol Yahudi.
"Ada apa ini? Dalam album-album selanjutnya Dewa juga banyak memuat logo dan simbol-simbol Zionis. Ini harus dilacak, ada apa di belakang Dewa?" papar Ridwan Saidi.

Saya sebagai orang yang telah lama mempelajari Zionisme berani menyatakan jika ini merupakan usaha penyebaran simbol2 Yahudi terbesar sepanjang sejarah Indonesia!" tandas Ridwan.

taken by Majalah Saksi Edisi Mei 2005
wallahu'alam

aufa_azzahra



Sumber: swaramuslim.com

Syariat Islam di Aceh, Siasat Budaya Neo-Snouckis?

Katagori : Opini
Oleh : Redaksi 11 Apr 2005 - 5:00 pm


Penulis: Otto Syamsuddin Ishak
imageApakah agama diperuntukkan bagi penciptaan manusia yang bercitra sebagaimana yang dikehendaki oleh Tuhan? Namun, bukankah agama juga bisa diperuntukkan bagi penciptaan manusia yang bercitra sebagaimana yang dikehendaki oleh manusia. Bahkan, negara pun bisa menggunakan agama untuk mencitra manusia sesuai dengan yang dikendaki ideologinya (nasionalisme).

Persoalan pertama, agama masih berada dalam wilayah teologis. Sedangkan persoalan berikutnya, agama sudah berada di wilayah ideologis. Dalam perspektif pascakolonial, agama sudah menjadi instrumen dalam proyek kolonialisme. Perbedaannya, jika persoalan yang kedua aktornya adalah individu atau komunitas ulama, maka persoalan yang ketiga aktornya adalah negara (institusi politik). Celakanya, bahkan kerap, aktor individu jumbuh dengan aktor negara jika kita melihat pada konteks kehidupan orang Aceh.

Dalam survei Lembaga Survei Indonesia (LSI), agama sebagai instrumen kolonial, tercermin dalam pertanyaan yang diajukan kepada responden di Aceh: “Apakah ibu/bapak lebih merasa sebagai orang dari suku-bangsa asal seperti Jawa, Sunda, Batak, Minang, dll., lebih sebagai orang dari agama tertentu (Islam, Kristen, dll.), atau lebih merasa sebagai orang Indonesia?” Perumus pertanyaan tersebut membandingkan antara identitas etnik, religius dan ideologis. Hasilnya, menurut LSI bahwa orang Aceh lebih bangga menjadi orang Indonesia daripada seorang muslim. Dengan lain kata, keindonesiaan (identitas ideologis) telah melampaui keislaman (identitas religiusitas) dan keacehan (identitas etnis).

Untuk mendapatkan konteks historis dan kekinian agama dalam perspektif pascakolonial, Aceh memang merupakan wilayah—dalam artian teritori dan waktu—di mana agama telah menjadi prototipe ideal instrumen kolonialisasi. Meskipun hal ini sering berada di luar kesadaran sosiologis orang Aceh. Bahkan ulama Aceh itu sendiri, serta cendekiawan muslim nusantara serta komunitasnya tidak sadar jika mereka telah berubah dari aktor teologis menjadi aktor ideologis yang mana mereka telah menggunakan agama sebagai instrumen kolonialisasi— teristimewa dalam periode bernegara pascakolonial (selepas 1945, red).

Dalam teori pascakolonial, negara pusat bukan saja mengambil alih secara paksa sebuah wilayah dan populasi manusia, tetapi juga menciptakan sistem ekonomi, politik dan budaya kolonial di wilayah itu yang memberikan keuntungan semaksimal mungkin pada negara pusat. Negara pusat terus berpikir untuk menciptakan siasat militer, dan siasat kebudayaan agar wilayah dan populasi yang dikuasainya menjelma menjadi sebuah koloni yang kompleks.

Pada intinya, siasat kebudayaan adalah penghilangan keaslian karakter budaya di koloni (dekonstruktif) sehingga terbentuk mental “kompleks inferioritas”, serta membentuk budaya baru yang berkiblat ke pusat koloni (rekonstruktif).

Snouckis


imageDalam kerangka berpikir siasat kebudayaan (kolonialisasi) itulah, Pemerintah Kolonial Belanda mengirim Snock Hurgronje. Apalagi, siasat militer tidak berhasil menjadikan Aceh sebagai sebuah koloni yang utuh. Perang Aceh berhasil mengulur waktu yang panjang (1873-1949), menyita energi yang melelahkan dan menguras dana yang sangat besar. Bahkan melampaui daya dukung keuangan serikat dagang dan negara itu sendiri.

Dampak negatif lainnya bagi negara pusat, siasat militer justru mengkristalkan spirit perlawanan yang manifes maupun laten di dalam diri orang Aceh. Di satu sisi, orang Aceh semakin mengidealkan dirinya menjadi gerilyawan, dan berakhir sebagai syuhada. Idealisasi orang Aceh bukan dalam artian sentimen terhadap nonmuslim, melainkan bertindak memerangi kemungkaran yang aktornya secara kebetulan jumbuh dengan individu non-muslim dan negara asing. Di sisi lain, serdadu mengalami stress dan menjadi bertindak brutal, juga para perwira tingginya.

Apakah siasat kebudayaan kolonial yang dijalankan Snouck di Aceh?

Target siasat itu langsung ke akar yang menghidupkan orang Aceh, yakni Islam. Karena itu, Snouck melakukan riset yang intensif untuk mengetahui pengaruh Islam terhadap kehidupan politik, ekonomi dan budaya orang Aceh. Meskipun hasil risetnya lebih tepat disebut sebagai studi kasus tentang eksistensi agama dalam kehidupan orang Aceh yang berada di wilayah dataran rendah, Aceh Besar. Meskipun demikian, studi ini memberikan inspirasi pada Snouck untuk merumuskan siasat budaya bagaimana ‘menjinakkan’ Islam di Aceh khususnya, dan wilayah koloni Hindia Belanda umumnya.

Siasat kebudayaan ini bukanlah kristenisasi, melainkan reislamisasi orang Aceh. Bukan pula, transformasi identitas dari keislaman menjadi kebelandaan. Islam yang berspirit melawan (kemungkaran) negara pusat harus direkonstruksi menjadi Islam yang loyal terhadap pusat kolonial, tanpa peduli terhadap kemungkaran. Islam harus dijadikan instrumen utama kolonialisasi.

Ada perbedaan yang tajam antara siasat militer dan siasat kebudayaan kolonial. Siasat militer, jika jenderal mati, maka mesjid di bakar. Ketika Kohler mati, maka Masjid Raya pun dibakar oleh serdadunya. Siasat kebudayaan justru sebaliknya, aktor kolonial harus menjadi imam mesjid, maka mesjid harus dibangun lebih megah lagi. Karena itu, proyek budaya yang utama adalah membangun kembali Masjid Raya dengan merujuk pada arsitektur Taj Mahal yang megah dan menyimbolkan kecintaan yang dalam.

Di sisi lain, Snouck mendekonstruksi identitas keacehan. Bahwa negara tradisional Aceh adalah negara perompak. Bahwa tingkat intelektualitas keagamaan ulama Aceh adalah rendah. Bahwa religiusitas orang Aceh adalah mistis dan takhayul. Padahal, di sisi lain, Snouck mengakui spirit keagamaan orang Aceh berbasis pada sufisme.

Selain merekonstruksi mesjid, Snouck mengintervensi manajemen masjid—bahkan ia berhasil menjadi imam besar—setelah bekerjasama dengan seorang kadi hulubalang Aceh. Tahap berikutnya, Snouck menata kembali institusi keagamaan agar lebih birokratis. Hal yang penting adalah pengangkatan H. Hasan Mustapa—kenalan utamanya sejak di Mekkah dan ulama yang berasal dari kalangan kelas menengah Sunda—sebagai Penghulu Besar di Aceh selama dua tahun. Lalu, ia diganti oleh Raden Haji Muhammad Rusydi—yang masih memiliki tali kekerabatan. Sejak itulah Islam menjadi instrumen politik kolonial yang terlembaga, yang kemudian dilanjutkan di dalam konteks Indonesia sebagai departemen agama.

Neo-Snouckis


Dari perspektif pascakolonial, apakah siasat budaya kolonial masih terus dilanjutkan di dalam negara modern Indonesia—dengan versi barunya, yakni kolonialisme modern—yang selaras dengan prinsip negara kesatuan?

Jika kita mengacu pada tesis Loomba, maka kemerdekaan tidak secara otomatis memusnahkan siasat budaya kolonial. Bahkan, kelangsungan siasat budaya kolonial bisa dimanipulasi sebagai bagian dari semangat nasionalisme yang terus-menerus dipompa oleh elite penguasa negara baru.

Dalam kolonialisme modern, wilayah politik terbagi dua, yakni pusat dan daerah dalam relasi yang sentralistik. Sistem demikian juga dipakai di Indonesia. Polanya, sistem politik harus memperkuat otoritas pusat dan memperlemah otoritas daerah. Sistem ekonominya, daerah adalah wilayah eksploitasi sumberdaya alam dan pusat adalah pengelola hasil sumberdaya alam itu.

Dalam sistem kolonial lama, daerah yang memberikan upeti ke pusat. Sekarang, bukan lagi upeti, tetapi semua alat produksi dimiliki dan dikelola oleh pusat. Pusat ‘menyedekahkan’ hasilnya kepada setiap daerah, sesuai dengan kemurahan hati pusat. Kemudian, daerah adalah pasar dan konsumen terhadap industri yang menumpuk di (wilayah) pusat kekuasaan.

Bagaimanakah dengan siasat yang berkenaan dengan identitas budaya daerah? Apakah setelah kemerdekaan, identitas budaya lokal yang telah dipunahkan oleh pemerintah kolonial mendapat kesempatan atau didorong kembali untuk hidup oleh penguasa pusat?

Rezim Soekarno


Fenomena gerakan pemberontakan daerah, khususnya DI/TII di Aceh dalam periode Soekarno, jika dilihat dari perspektif pascakolonial, adalah akibat dari masih dilanjutkannya sistem-sistem kolonial itu. Apa yang dilakukan oleh Tgk Daud Beureueh adalah perlawanan terhadap dominasi sistem kolonial modern yang dipraktekkan rezim Soekarno. Praktek kolonial modern ini sangat terasa di luar wilayah Indonesia Luar ketimbang di Indonesia Dalam (dalam pembagian Geertz).

Di wilayah Indonesia Luar, pihak kolonial relatif tidak memiliki waktu yang cukup untuk membangun sistem politik dan ekonomi yang kuat atau, wilayah ini tidak pernah menjadi pusat kolonial. Akibatnya, ada pola metamorfose yang berbeda dalam menyikapi kelanjutan sistem kolonial antar komunitas keagamaan di Indonesia. Di sana, komunitas keagamaan membangun perlawanan terhadap dominasi pusat, termasuk menjadi gerakan politik bersenjata. Apalagi sebagian dari tokohnya adalah pemimpin gerilya di masa kolonial.

Di Indonesia Dalam, komunitas keagamaan berupaya mengintegrasikan diri ke dalam struktur birokrasi pemerintahan. Karena itu terjadi kompetisi politik yang tajam, misalnya antara NU dan Muhammadiyah, dalam perebutan jabatan kementerian agama—yang merupakan proyek kolonial. Mereka berebut menjadi bagian dari rezim baru yang melanjutkan proyek kolonial.

Relasinya dengan kekuasaan, NU mengeluarkan fatwa bughat terhadap gerakan perlawanan muslim di wilayah Indonesia Luar. Fatwa ini merupakan bentuk awal komunitas keagamaan yang jumbuh dengan kekuasaan. Sebuah fatwa yang menghalalkan pembunuhan muslim di Indonesia. Berikutnya, adalah keterlibatan mereka dalam aksi pembasmian PKI yang dimobilisasi serdadu.

Sementara siasat budaya yang menyangkut identitas daerah, Pusat membangun versi baru. Jika dahulu kebanggaan identitas dikaitkan dengan Hindia Belanda, maka sekarang kebanggaan terhadap keindonesiaan (nasionalisme), mulai dari propaganda “ganyang Malaysia” hingga kebanggaan terhadap proyek-proyek mercusuar. Ganyang Malaysia menunjuk pada kebencian sesama etnik melayu akibat nasionalisme (hitam).

Di Aceh, orang mulai bangga menyebutkkan bahwa pabrik Gula Cot Girek adalah pabrik terbesar dan termodern di Indonesia. Orang Aceh merasa inferior atau tidak modern bila tidak berbahasa Indonesia. Sementara, konsesi politik pasca DI/TII yang berkenaan dengan tiga keistimewaan Aceh (dalam bidang agama, adat dan pendidikan)—yang sebenarnya dapat menjadi basis bagi siasat budaya perlawanan lokal terhadap budaya dominan—tidak berjalan.


Rezim Soeharto


Pada periode Soeharto, tiga keistimewaan itu diabaikan secara legal dengan Undang-undang Pemerintah Daerah dan Pendidikan Nasional. Bahkan, upaya mengimplementasikan tiga keistimewaan itu dengan mudah dihantam oleh isu komando jihad, dan Gerakan Pengacau Liar (GPK) dalam periode DOM (1989-1998).

Identitas lokal diorientasikan pada kebanggaan terhadap industri eksploitasi gas alam Arun. Industri itu dipropagandakan sebagai penghasil gas terbesar di dunia, yang menggunakan teknologi tercanggih (supra modern). Orang Aceh bangga—khususnya kaum birokrat dan kelas menengah atas—bahwa gagasan pembentukan Bappenas berasal dari pengembangan gagasan Aceh Development Board (ADB). Orang Aceh bangga bahwa pelembagaan ulama (Majelis Ulama Indonesia) adalah berasal dari Aceh. Elite agama Aceh tidak sadar bahwa pelembagaan ulama merupakan kelanjutan dari proyek kolonialisasi yang telah dilakukan oleh Snock Hurgronje. Pelembagaan itu merupakan siasat budaya pusat untuk mengontrol ulama melalui institusi birokrasi.

Dalam periode negara modern, komunitas muslim selalu disediakan musuh oleh penguasa politik. Islam dan muslim dibenturkan dengan non-Islam dan non-muslim. Islam dan muslim dibenturkan dengan komunisme (Tragedi ‘65). Hal ini membentuk karakter Islam eksklusif. Islam dan muslim dibenturkan dengan Islam dan muslim yang dilabel dan dipropagandakan oleh penguasa sebagai Islam radikal dan komunitas komando jihad (komji). Hal ini membentuk karakter Islam introvert. Jadi proyek kolonialisme modern melahirkan Islam eksklusif dan introvert—yang sesuai dengan ranah budaya agraris pedalaman dan rezim politik yang represif.

Suatu kala, saya bertemu dengan seorang inisiator PKI di Aceh yang telah bermukim di Amsterdam. Saya terkejut ketika ia mengatakan bahwa yang pertama sekali dieksekusi (extra judicial killing) di Aceh adalah enam perempuan. Hal ini menunjukkan proyek kolonialisme modern yang menjadikan Islam sebagai instrumen politik berdarahnya telah merasuk sangat dalam. Muslim membantai muslim yang berideologi berbeda, bersimpati atau berkerabat dengan pengikut komunisme.

Oleh serdadu, pola ini digunakan lagi di masa DOM. Sejumlah ulama dibawa ke kamp-kamp penyiksaan dan pembantaian serdadu untuk memberikan ‘siraman rohani’. Kesaksian para tahanan bahwa ulama justru menyalahkan, bahkan memberikan label berdosa pada mereka karena melawan pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa ulama Aceh telah memiliki karakter politik yang sama dengan ulama di Indonesia Dalam. Ulama menjadi buta terhadap tindakan mungkar dan dzalim (serdadu) yang terjadi di dalam kamp militer tersebut.

Ketika Islam dan muslim telah menjadi instrumen dan aktor proyek kolonialisme modern, maka spirit perlawanan (jihad) terhadap kemungkaran (korupsi) dan kezaliman (pelanggaran HAM) penguasa politik hilang. Akar spirit gerakan perlawanan terhadap rezim Soeharto bukan bersumber pada agama dan bukan digerakkan oleh ulama, melainkan bersumber dari akumulasi pengalaman hidup rakyat yang pahit dan berdarah selama tiga dasawarsa Orde Baru.

Pasca Reformasi


Hal yang lebih tragis lagi bagi Aceh, di pascareformasi terjadi kejumbuhan antara aktor agama dan aktor negara dalam melanjutkan proyek-proyek kolonialisme modern di masa kekuasaan Abdurrahman Wahid. Siasat budaya yang berlaku—dengan menggunakan dana bantuan Sultan Brunei Darussalam—adalah merelasikan antara ulama Aceh dan NU. Dalam setiap muktamar NU, misalnya muktamar tarekat yang muktabarah, maka ulama Aceh dihadirkan.

Kemudian rezim mempropagandakan ulama sebagai pemilik otoritas tertinggi terhadap seluruh tatanan kehidupan orang Aceh. Penguasa pusat bermaksud untuk memotong pengaruh GAM dalam masyarakat dengan meminjam tangan ulama Aceh.

Di sisi lain, penguasa pusat mempropagandakan pada komunitas internasional bahwa orang Aceh adalah penganut Islam yang sangat fanatik dan radikal. Orang Aceh adalah kaum muslim yang tertutup dan eksklusif. Orang Aceh sangat membenci orang asing, apalagi non-muslim.

Pada awalnya, serdadu memberikan tekanan khusus bahwa pendanaan GAM ditopang dari hasil penjualan ganja. Sementara sebaran ganja Aceh ke seluruh pelosok nusantara paralel dengan asal-usul kesatuan serdadu yang dikirim ke Aceh.

Lalu siasat budaya ini dikembangkan menjadi proyek kriminalisasi manusia. Orang Aceh adalah pemadat ganja. Media elektronik dan cetak di Indonesia pun mengekspose penangkapan anggota sindikat ganja, apalagi bila ada pelakunya yang berasal dari Aceh. Media melanjutkan dan ikut mempertajam diskriminasi etnis yang berbasis ganja sebagaimana yang diskenariokan oleh serdadu. Lalu, serdadu memaksa pihak ulama untuk mengeluarkan fatwa yang menyangkut ganja.

Dari perspektif pascakolonial, tindakan kriminalisasi orang Aceh—dengan menggunakan ganja—adalah salah satu bagian dari paket dehumanization jika kita merujuk pada konsep kolonialisasi Frantz Fanon. Masih ada tindakan lainnya di dalam paket tersebut, antara lain, pemarakan perdagangan ilegal, perjudian, pelacuran, pencurian, pembunuhan massal, perbudakan seks di kamp militer, disgregasi etnis dan pembunuhan misterius. Ada dua hal yang diharapkan dari siasat ini, pertama inferioritas orang Aceh, konflik horizontal, dan orang Aceh menjadi manusia traumatik. Kedua, membangkitkan gairah masyarakat di luar Aceh untuk mencurigai, men-sweeping dan menghukum orang Aceh yang bermukim di daerahnya.

Proyek budaya lainnya adalah memberikan legalitas pemberlakukan syariat Islam. Hal ini justru digunakan untuk meneguhkan propaganda pada komunitas internasional: “Lihatlah, orang Aceh sangat fanatik. Mereka ingin mendirikan negara Islam di dalam Indonesia. Mereka kaum muslim yang potensial menjadi kelompok teroris. Buktinya, lihatlah apa yang dilakukan GAM!”

Dalam realitasnya, pemberlakuan syariat Islam merupakan proyek kolonialisme modern untuk memasukkan orang Aceh ke dalam ‘kerangkeng besi’. Padahal, kasus-kasus korupsi tidak diadili dengan syariat, melainkan dengan UU Tindak Pidana. Kasus-kasus pelanggaran HAM oleh serdadu tidak bisa disentuh oleh syariat, melainkan dengan peradilan koneksitas dan peradilan militer. Kasus-kasus pemerkosaan juga hanya masalah indisipliner serdadu. Kasus-kasus judi, togel dan narkoba (shabu-shabu) yang dibekingi serdadu tak terjangkau syariat. Bahkan kasus pembunuhan yang dilakukan serdadu terhadap istri mantan walikota pun tidak masuk ke dalam peradilan syariat.

Hukum syariat hanya menjangkau laki-laki Aceh yang tidak pergi ke masjid di hari Jumat. Perempuan Aceh tidak memakai jilbab. Kaum muda Aceh yang pacaran di pinggir pantai. Singkatnya, pemberlakuan syariat ibarat memakaikan sepatu besi yang kekecilan pada kaki-kaki orang Aceh yang melakukan perlawanan terhadap aktor kolonial versi baru—yakni kaum dan penguasa Neo-Snouckis. Pemberlakuan syariat di Aceh hanya merupakan salah satu siasat budaya kolonialisme modern yang menguntungkan pusat.

Penutup


Islam dan muslim dalam ranah non-teologis dapat ditafsir dari perspektif pascakolonial. Aceh menjadi konteks historis dan politik kekinian yang ideal untuk menemukan bagaimanakah Islam dan muslim digunakan sebagai instrumen dan aktor dalam proyek budaya kolonialisme modern.

Proyek kolonialisme ini tanpa disadari telah tertanam di dalam kaum terpelajar muslim, atau kelas menengah Aceh. Fenomena itu semakin tampak tegas pada perilaku elite agama periode pascatsunami. Ceramah-ceramah agama di mesjid menegaskan bahwa bencana alam tsunami terjadi karena kemurkaan Allah SWT terhadap amoralitas orang Aceh yang sudah keluar batas.

Korban tsunami mendapat siraman rohani, misalnya: “Bersabarlah dalam menghadapi cobaan Tuhan, Tuhan akan menyayangi mereka yang bersabar.” Sementara bantuan kemanusiaan dari seluruh penjuru dunia tidak sampai kepada mereka karena ada kontrol dan akumulasi yang dilakukan oleh serdadu. Ulama bukannya menyiram rohani serdadu: “Bahwa tindakan mengontrol, mengakumulasi dan melakukan diskriminasi politik dalam kaitannya dengan bantuan adalah perbuatan mungkar dan dzalim. Allah SWT akan melaknati kalian, wahai kaum serdadu!”

Tanda-tanda berikutnya, ulama mulai peka dan mudah terhasut dengan isu kristenisasi. Bahkan, segala sesuatu yang asing (LSM dan serdadu) adalah identik dengan Kristen. Ulama pun meminta elite penguasa untuk mengontrol dan menyeleksi orang asing dengan mindset orang kafir. Di dalam benak mereka sudah terjadi dialog: “Tidak mungkin orang asing membantu Aceh dengan tanpa kepentingan. Adapun kepentingan itu adalah kristenisasi.

Hal yang juga penting, apakah muskil rekonstruksi pascatsunami merupakan proyek budaya neo-snouckis (kolonialisme modern) yang terbesar di abad 21? Proyek budaya kolonial modern yang bertujuan merubah orang Aceh menjadi manusia-manusia kolonial dan beragama sesuai dengan format kolonial modern, dan pelakunya berasal dari etnik dengan agama yang sama dengan orang Aceh itu sendiri.

Jika hal ini betul-betul terjadi, maka bukan saja orang Aceh telah ditipu, melainkan komunitas internasional yang membantu Aceh atas dasar spirit kemanusiaan juga telah ditipu. Bayangkan saja, bantuan kemanusiaan telah digunakan untuk mendehumanisasi manusia lainnya (orang Aceh). Naudzubillah! (acehkita)

*) Sosiolog asal Nanggroe Aceh Darussalam


Sumber: swaramuslim.com

ZIONIS BERGANDENGAN DENGAN KRISTEN EKSTREM

Katagori : Aspirasi & Muslim Voice
Oleh : Redaksi 07 Apr 2005 - 8:10 am


Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Aam Ikhwanul Muslimin, Mesir
imageTema Kristenisasi Internasional yang diangkat SABILI pada edisi lalu, ternyata mendapat respon tersendiri dari negeri piramida, Mesir. Kasus Wafa Konstantin dengan Gereja Koptik Mesir, serta ketenangan Asywik Collin Yaneq tentang ancaman Kristenisasi pada gerakan Islam tertua di dunia, Ikhwanul Muslimin (IM), memang sedang hangat dibicarakan di negara itu.

Karena sedang hangat, Mursyid Aam Ikhwanul Muslimin Muhammad Mahdi Akif menerima wartawan SABILI di Mesir, Yusuf Burhanudin dan memberikan keterangan. Gerakan Kristenisasi, memang telah mengancam, tidak saja Ikhwanul Muslimin, tapi juga dunia Islam secara keseluruhan.

Ditemui di markas Ikhwanul Muslimin, Muhammad Mahdi Akif yang tergolong susah ditemui, merasa perlu memberikan pesan-pesannya pada SABILI. Sebab, Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia tidak akan lepas pula dari ancaman global ini.

“Yang perlu diwaspadai adalah, gerakan Kristenisasi tak pernah dilakukan terang-terangan. Mereka selalu menempuh jalur bawah tanah dan menggunakan segala cara,” pesannya pada Yusuf Burhanudin. Ia juga memberikan resep-resep penting guna menangkal dan menghalau gerakan Kristenisasi menyerang umat Islam.

Mahdi Akif terpilih menjadi Mursyid Aam Ikhwanul Muslimin yang ke enam. Ia duduk pada kursi tertinggi organisasi yang selalu dianggap lawan politik terberat pemerintah Mesir ini setelah pendahulunya, Makmun Hudhaibi, meninggal awal tahun lalu. Muhammad Mahdi Akif, selain tercatat membangun karir organisasinya di Ikhwanul Muslimin, ia juga veteran Perang 1948 antara Mesir dan Israel. Hari-hari ini, ia dan Ikhwanul Muslimin sedang disibukkan dengan rencana pemilihan Presiden Mesir mendatang.

Beberapa lamaran sudah masuk ke Ikhwanul Muslimin. Tapi Akif sepertinya akan menolak. “Kita punya kandidat sendiri yang mampu mengatur dunia dan tidak Mesir saja,” ujarnya penuh percaya diri. Berikut petikan wawancara SABILI dengan Muhammad Mahdi Akif:

Anda percaya gerakan Kristenisasi itu sedang menyerang dunia Islam?


Sebenarnya, tidak ada satu pun gerakan Kristenisasi di dunia Islam ini. Dalam arti, gerakan yang terang-terangan. Tapi semua itu dilakukan di bawah tanah dan jauh dari permukaan. Yang jelas, semua usaha kristenisasi menunjukkan kegagalannya sejak abad yang lalu.

Menurut Anda, tujuan gerakan ini murni misi keagamaan atau ada kaitannya dengan imperialisme?


Gerakan mereka terselubung dan didanai oleh berbagai lembaga internasional guna melancarkan tujuan-tujuan tersembunyi pula. Tetapi ingat, upaya mereka itu sedikit pun tidak akan membawa hasil yang berarti.

Asywik Collin Yaneq, mantan Sekjen Persekutuan Gereja Internasional di Tengah dan Timur Afrika mengungkap rencana Kristenisasi di dunia Islam.

Salah satu agenda terpenting adalah melucuti kekuatan gerakan Ikhwanul Muslimun, komentar Anda?


Mereka boleh merencanakan apa saja sesuai dengan apa yang mereka kehendaki. Mereka juga boleh mengajukan misi apa saja terhadap dunia Islam. Ikhwanul Muslimun hampir selalu menjadi target utama dalam misi mereka. Itu disebabkan komitmen Ikhwanul Muslimun pada Islam, komitmen terhadap risalah kenabian, dan yang terpenting memiliki kedisiplinan terhadap manhaj gerakan yang telah digariskan.

Mereka sebenarnya ingin mendekati masyarakat. Salah satu hal terpenting dalam pendekatan ke masyarakat, terutama masyarakat beragama, tentunya yang hampir selalu berpegang teguh pada pokok-pokok keimanan kepada Allah SWT. Sungguh ini sebuah gambaran kondisi masyarakat yang memiliki pondasi akidah yang kuat dan secara tulus menjadikan Islam sebagai agama mereka. Tentu saja, siapapun akan merasa kesulitan bahkan riskan dalam melancarkan berbagai aksi dan gerakan kristenisasi kepada model masyarakat seperti di atas. Meski harus diintervensi dengan kekuatan atau kekuasaan, harus dibujuk rayu dengan uang dan kekayaan, semuanya sama sekali tidak akan mempan.

Islam adalah akidah sekaligus risalah. Mengamalkan keduanya dalam segenap kehidupan, membuat segala ancaman yang datang, dengan mudah terhalau. Demikian kira-kira resep yang di antaranya senantiasa dipegang oleh kebanyakan umat Islam, khususnya yang ada di belahan Jazirah Arab.

Penahanan 58 anggota IM kemarin terkait dengan misi penting Kristenisasi?


Tidak. Itu semua tidak ada kaitannya dengan rencana Kristenisasi. Ini adalah persoalan Ikhwanul Muslimun dengan pemerintah. Falsafah pemerintah itu adalah, selalu memerangi gerakan Ikhwanul Muslimun, bagaimanapun caranya.

Pemerintah agaknya mulai mencium bahwa berbagai gerakan Ikhwanul Muslimun banyak mendapat simpati dan meraih banyak pengikut. Demikian pula peran Ikhwanul Muslimun dalam politik maupun perundang-undangan. Semakin banyak mendapat dukungan rakyat bawah. Dan seperti biasa, dapat ditebak, pemerintah yang berkuasa jelas tidak menghendaki itu semua. Sekali lagi, ini tidak ada kaitannya dengan campur tangan Kristen ekstrem dalam memenjarakan beberapa anggota Ikhwanul Muslimun kemarin. Ini soal kebencian pemerintah saja.

Apa kiat Ikhwanul Muslimun menghalau semua kelemahan umat Islam tersebut?


Pada prinsipnya, kami senantiasa siap menghadapi kekuatan yang datang mengancam dari mana pun. Terlebih gerakan-gerakan yang bisa merusak akidah dan menistakan umat. Semuanya kami tegakkan berdasarkan misi agama yang kami yakini dan juga tuntunan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Tidak luput pula mengedepankan nilai-nilai moral yang kokoh di garda terdepan. Inilah yang membuat ajaran Islam unggul dibanding yang lainnya. Boleh dikatakan, tidak ada satu ajaran mana pun di muka bumi ini yang selengkap ajaran Islam.

Maka itu, kami akan selalu “menyambut” seluruh gerakan kristenisasi yang datang dari negeri manapun di dunia ini. Meski mereka didukung oleh dana miliaran dolar dan fasilitas yang luar biasa, itu semua tidak ada artinya dibanding dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kami untuk senantiasa beriman, mempercayai-Nya dan berusaha keras sekuat tenaga meraih surga-Nya.

Ada kaitan antara misionaris dengan zionisme atau imperialisme dunia?


Zionisme internasional itu telah sejak lama bergandengan mesra dengan kelompok Kristen ekstrem terutama dalam menghantam dan melumpuhkan gerakan-gerakan Islam. Mereka, selalu sepakat menggempur kekuatan umat Islam. Wajar jika mereka mau bekerjasama mengerahkan segala daya dan upaya yang mereka miliki guna menghasut umat Islam.

Apakah di Mesir gerakan Kristenisasi juga terjadi?


Di hampir semua tempat, gerakan berlangsung. Belum berhenti hingga hari ini. Akan tetapi upaya mereka senantiasa menemukan kegagalan dalam segala rencana yang digencarkan.

Seiring dengan itu pula, mereka tanpa henti terus-menerus mengutus para misionarisnya, mendirikan gereja-gereja, ataupun mendirikan lembaga-lembaga sosial guna “membantu” masyarakat Muslim yang lemah dan berkekurangan secara ekonomi. Ini senjata klasik yang sering mereka gunakan sebagai kedok nyata bagi persiapan penjajahan agama.

Apabila semua itu telah dilakukan, langkah berikutnya adalah mudah dikristenkan. Tetapi saya katakan, tidak usah khawatir, karena segala upaya itu selalu berujung dengan kegagalan dan kesia-siaan.

Daerah mana saja di Mesir yang rawan Kristenisasi?


Yang jelas, mereka selalu mengincar daerah-daerah kumuh dan miskin. Biasanya, aksi yang dilakukan adalah membagi-bagikan bantuan finansial, bahan pokok sehari-hari seperti makanan. Pokoknya, meliputi kebutuhan sandang, pangan, bahkan papan.

Lucunya, meski kaum Muslimin itu telah berhasil ditarik memeluk Nasrani, tetapi ketika disuruh membaca tahlil, mereka ternyata masih bisa berteriak fasih laa ilaaha illallaah muhammadun rasulullaah! Benar-benar membingungkan! Ini pertanda, betapa geliat dan fitrah Islam telah mendarah daging dalam watak, kebiasaan, dan seluruh tradisi umat ini.

Ada kaitan antara gerakan misionaris dengan American University di Kairo?


Kaitan secara langsung, mungkin tidak ada. Pendirian Univeristas Amerika tersebut, hanya untuk kepentingan satelit politik Amerika saja. Dengan kata lain, sebagai pelaksana berbagai kepentingan politik Amerika di negeri orang lain.

Sekarang ini kita memang patut bersyukur. Universitas Amerika tersebut kini penuh sesak oleh orang-orang Islam yang taat dan shalih. Sehingga, secara logika, tidak mungkin mereka kemudian dengan gampang dimurtadkan. Apalagi hendak dicetak menjadi misionaris-misionaris yang kelak menjalankan misi Kristenisasi.

Apakah benar bahwa Amerikanisasi bagian dari Kristenisasi?


Gereja-gereja di Amerika memang memiliki peran dan artikulasi kekuatan, dalam arti dana dan SDM yang cukup luar biasa. Dari hitung-hitung logika kekuatan, mereka memang cukup unggul sehingga bisa menerobos dunia Islam dengan sangat mudah.

Demikian juga kerja sama kekuatan mereka dengan persekutuan gereja-gereja Kristen, baik yang ada di Jerman dan Swiss dengan dana miliaran dolar. Dana besar-besaran itu memang dialokasikan semuanya untuk mendanai kaum misionaris demi menjalankan proyek Kristenisasi. Tidak banyak yang tahu soal itu, karena cenderung bergerak secara rahasia dengan rencana yang terselubung.

Tetapi umumnya, mereka tidak mempan menembus masyarakat Muslim, terutama pada umat Islam di seluruh dunia Arab. Alih-alih keberhasilan yang bisa didapat, yang terjadi justru selalu mendapatkan kenihilan dalam proyek-proyek besar mereka itu. Hal ini disebabkan kekompakan masyarakat kita sendiri yang menolak program berbagai rencana mereka itu sejak jauh-jauh hari.

Menurut Anda, kenapa kristenisasi di Indonesia berlangsung begitu marak?


Menurut saya, ini karena masyarakat Indonesia mendapat tekanan dari pemerintah. Terutama dalam menekan dan melumpuhkan seluruh gerakan umat Islam. Di samping tentunya tekanan asing yang tak kalah dahsyatnya. Ini benar-benar kelihatan sekali di Indonesia.

Terlebih, gerakan Kristenisasi ini seolah mengincar kelompok masyarakat yang berkekurangan sehingga cenderung mendapat sambutan luar biasa, terutama bagi orang-orang fakir, miskin. Karenanya, ketika belenggu kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan bisa dienyahkan, maka seketika itu pula gerakan Kristenisasi akan terhalau. Di situlah sebenarnya kuncinya.

Adakah strategi khusus menghadapi hal ini?


Solusi bagi kita itu sudah begitu gamblang. Bahwa umat Islam sudah semestinya mulai mengenal dengan seksama hakikat dan tujuan agama mereka itu sendiri. Setiap kita harus memahami akidah Islam dengan benar, menjalankan syariat Islam dan berdisiplin dalam menunaikan berbagai kewajiban yang telah digariskan. Mulai dari praktik shalat hingga bagaimana belajar mencintai orang lain.

Yang terpenting, ajarkanlah kepada mereka yang awam, apa itu Islam. Seandainya umat Islam mengerti apa arti Islam yang sesungguhnya, maka dijamin tak ada seorang pun yang mampu menarik umat Islam kepada agama yang ditawarkan para misionaris itu. Saya sampaikan, bahwa pihak yang mempersilakan para misionaris menjalankan proyek Kristenisasi, khususnya di Indonesia, memang merupakan krisis lanjutan dari sebuah serial diktatorisme yang selama puluhan tahun berlangsung di Indonesia. Tetapi kalau memang kini rakyat Indonesia telah merasakan udara kebebasan, maka nikmatilah.

Di Timur Tengah Kristenisasi pada umumnya tidak segencar di Indonesia. Apa masalahnya menurut Anda?
Ya, demikianlah risiko sebuah kebebasan. Semua gerakan bisa masuk tanpa filter yang ketat. Tetapi jangan khawatir. Segencar apapun kristenisasi di Indonesia, mereka tetap akan hancur. Tetap akan menemui kegagalan dan berakhir sia-sia.

Saya justru lebih percaya akan terjadi kebangkitan umat Islam di Indonesia. Terutama saat ini seluruh umat Islam Indonesia telah mulai menikmati udara kebebasan. Tinggal bagaimana mengelola seluruh kebebasan itu menuju kebebasan yang sesungguhnya. Sebuah kebebasan dimana tidak ada lagi ruang kehidupan bagi Kristenisasi. Dan umat Islam Indonesia saat ini, insya Allah, tengah menuju puncak kebebasan luhur ini.

Apa sebenarnya persoalan mendasar yang mesti diperhatikan oleh umat Islam saat ini?


Semua gejala di atas yang saya sebutkan tadi itu tiada lain menunjukkan secara gamblang, bahwa kebanyakan pemerintah kita selalu ditekan dan bergantung pada kekuatan asing. Inilah sebenarnya persoalan penting yang menjadi kendala mendasar negara-negara di dunia Islam seluruhnya. Semuanya berkaitan dengan politik dan kebijakan dalam negeri itu sendiri, apakah terpengaruh atau tidak oleh kekuatan asing. Mandiri, independen, atau malah didikte. (Sabili)

Sumber: swaramuslim.com

Mereka Bersatu Memaki Islam

Katagori : Islamophobia
Oleh : Redaksi 29 Mar 2005 - 12:30 am



imageimageGetaran pentas WS. Rendra tentang Rasulullah dalam pagelaran Barzanji beberapa saat lalu. Betapa agung Muhammad.Ya Nabi salam alaika, Ya Rasul salam alaika, Ya Habib salam alaika.... Suara koor membuka pertunjukkan menembangkan Barzanji yang diterjemah oleh Syu’bah asa. Begitu agung.

Tapi ada peristiwa sebaliknya yang terjadi di belahan bumi lain. Sebuah seminar sehari di Columbus, Ohio, Amerika Serikat sedang membicangkan bagaimana berhadapan Muslim saat ini. Hari itu (27/5) Gereja Southern Grace Brethren dipenuhi oleh para pemuka-pemuka gereja dari berbagai belahan Amerika. Tak hanya pemuka agama, guru-guru dan murid dari sekolah menengah umum yang berada di sekitar Columbus turut pula hadir, sebagai undangan

Pat McEvoy, salah seorang guru yang hadir benar-benar terinspirasi oleh seminar sehari tersebut. Seperti penuturannya pada New York Times, sebelum seminar ini ia sangat sedikit menerima informasi tentang Islam. Bahkan bisa disebut buta. Informasi gerangan apakah yang membuat guru seperti Pat McEvoy kagum?

Seminar itu bertajuk; Muslim di Amerika, Merayu atau Memerangi Mereka. International Herald Tribune memuat berita tentang seminar ini sebagai headline di halaman depan edisi 28 Mei 2003. Dalam banyak keterangannya, International Herald Tribune menyebut seminar sehari ini sebagai sebuah seminar mencari jalan menjauhkan Muslim dari nilai dan ajaran-ajaran Islam.

Tak berlebihan jika disebut demikian. Salah seorang pembicara yang tak disebutkan namanya, menyebutkan salah satu cara menjauhkan Muslim dari Islam. “Selalu tunjukkan kepada orang Muslim sikap cinta kasih, kedermawanan dan keramah-tamahan. Dan jangan lupa, bawa sebuah Perjanjian Baru untuk diberikan sebagai hadiah,” tuturnya.

Ia juga memberikan beberapa tips dan cara apa saja yang harus dilakukan dan apa pula yang harus dihindari dalam usaha merangkul kaum Muslim Amerika. Cara-cara itu adalah, jangan dekati Muslim secara berkelompok, jangan ajak mereka untuk datang ke gereja. “Karena mereka (Muslim, red) tidak akan mengerti dan menyangka menyanyi dan bertepuk tangan adalah sebuah pesta. Undang mereka ke rumah untuk makan, bawakan mereka kue-kue cokelat sebagai hadiah. Ajak mereka berbicara tentang misi penyelamatan. Jika ingin selamat, maka terima Yesus sebagai juru selamat.”

Namun cara ini ditolak mentah-mentah oleh seorang penginjil asal Beirut yang tak pula disebutkan namanya. Menurutnya, cara-cara yang disebutkan pembicara pertama tidak akan bisa dilakukan dan sangat bahaya. Dalam persentasinya yang menggunakan Power Point tersebut, sang penginjil menyebut bahwa al-Qur’an dan ajaran Islam penuh dengan kebencian, kekerasan dan kelicikan. “Di sini, di dalam al-Qur’an, terdapat kata-kata, bunuh mereka. Bunuh orang-orang kafir itu,” ujar yakin. Berbeda dengan kitab Injil, tambahnya lagi, tak ada satupun kata-kata Yesus yang menyuruh membunuh manusia tak berdosa.

Ia menyakinkan para hadirin, bahwa menjadi misionaris di tengah-tengah komunitas Muslim sama dengan membahayakan hidup para misionaris itu sendiri. Lalu ia menceritakan pengalamannya saat berara di Beirut. Menurutnya, ia kenal seorang pemuda yang bergabung dengan gerakan Hizbullah yang ia sebut sebagai gerakan teroris. Suatu ketika, kawan kecilnya itu menunjukkan sesuatu yang mengerikan; potongan-potongan telinga para korbannya. Kisah lain yang tak kalah dramatis digambarkannya adalah, perjalanan seorang teman kecilnya yang disiksa oleh sang ayah karena ketahuan pindah agama. “Kalian bisa menyebut Islam damai di depan saya, saya sudah tahu semuanya. Sejak dari awal, Islam lebih dulu berbicara dengan pedang ketimbang kata-kata,” tandasnya.

Kemudian dengan pongahnya ia menceritakan pernak-pernik yang ia ketahui tentang Islam. Salah satu yang ia sebut adalah soal ibadah haji dan shalat lima waktu dalam sehari. Menurut penginjil dari Beirut ini, ibadah haji adalah peristiwa tahunan yang sangat berbahaya. “Haji di Makkah setiap tahunnya selalu saja meminta korban nyawa.”

Sementara itu, tentang shalat ia menyebutkan, bahwa Muslim dalam beribadah bukan berkomunikasi dengan Tuhan tapi mengumpulkan angka harian. Sedangkan soal shalat Jum’at berjamaah ia menyebutnya sebagai Hari Kemarahan.

Sebagian besar pembicara, bersikap dan mempunyai nada seperti ini. Mereka beranggapan, bahwa Islam adalah agama yang penuh dengan kekerasan. Bagi organisasi-organisasi penginjil di Amerika, sejak peristiwa 11 September, Islam dipandang sebagai ancaman global. Bahkan, menurut International Herald Tribune, sebagian besar organisasi penginjil yang ada di Amerika berpendapat, Islam adalah musuh publik nomor satu di Amerika setelah runtuhnya Komunisme yang ditandai dengan bubarnya Uni Soviet.

Sesungguhnya, tak kurang pemuka-pemuka Kristen yang berpendapat seperti di atas. Beberapa di antaranya bahkan menggunakan kata-kata yang sangat menyakitkan. Orang-orang itu adalah, Pat Robertson, Jerry Falwell, Franklin Graham dan Jerry Vines.

- -

Franklin Graham, beberapa saat setelah peristiwa 11 September terjadi, dalam sebuah wawancara dengan salah satu stasiun televisi di Amerika mengatakan bahwa Islam adalah agama iblis dan sangat jahat. Sedangkan Jerry Vines (laknatullah, red) mengeluarkan pernyataan yang benar-benar menghina Rasulullah. Menurut Vines, pendiri agama Islam adalah seorang yang jelmaan iblis dan juga seorang paedofili, pelaku seks pada anak-anak. Vines mengambil pernikahan Rasulullah dengan Aisyah sebagai argumentasi untuk pemikiran busuknya. Sementara itu, Pat Robertson adalah salah seorang pemimpin dalam tim penasihat spiritual Presiden George W. Bush yang senantiasa menghembus-hembuskan semangat Perang Salib.

Dikabarkan, pasca 11 September terjadi gelombang besar-besaran keingintahuan rakyat Amerika terhadap Islam. Menurut data Council on Islamic American Relation (CAIR) tak kurang dari 33 ribu pemeluk Muslim baru dari seluruh negara bagian di Amerika. Hukum Islam dan al-Qur’an menjadi bacaan wajib di beberapa universitas dan jumlah masjid selalu bertambah. Angka terakhir, terdapat 3000 masjid di seluruh Amerika dan masih akan terus bertambah.

Tapi tampaknya, di sisi lain, tingkat kebencian terhadap Islam pun meningkat pula, baik angka maupun kualitas kasusnya. FBI mencatat, sejak September 2001 hinggan September 2002, terjadi peningkatan kasus kejahatan bermotif kebencian agama sebanyak 1.600%. Jika pada tahun 2000 hanya terjadi 28 kasus, maka sejak 11/9 sampai tahun 2002 terjadi sebanyak 481 kasus.

Di sisi lain, di dunia intelektual terjadi pula peningkatan kuantitas buku-buku dan produk intelektual yang menyudutkan Islam. Toko buku-toko buku Kristen dibanjiri puluhan buku baru tentang Islam. Salah satu yang masih hangat dan baru terbit adalah The Secret of Koran yang ditulis oleh seorang mantan misionaris yang pernah menjalankan misinya di beberapa negara Islam. Penulis, Don Richardson dalam bukunya menjelaskan bahwa al-Qur’an adalah kitab yang penuh dengan racun dan penuh dengan aroma kematian.

Yang paling baru, salah satu produk intelektual yang dimainkan oleh kelompok ekstremis Kristen ini adalah membangun sebuah jaringan televisi untuk Irak pasca invasi. Di belakang televisi pemerintahan Irak baru yang mengudara dengan bahasa Arab berdiri tokoh-tokoh Kristen radikal pro-Israel dari Grace Digital Media. Kelompok yang satu ini adalah sebuah rumah produksi dalam penyediaan berita yang banyak dibuat referensi oleh berbagai media di Amerika.

Berita-berita yang diproduksi oleh rumah produksi ini sebagian besar adalah dokumenter soal Israel dan hubungannya dengan Amerika. Rumah produksi ini dikuasi oleh orang-orang Kristen radikal dari Partai Republik dan juga kelompok yang simpati pada Partai Likud pimpinan Ariel Sharon. Kelompok Kristen radikal seperti di atas biasa pula disebut sebagai Kristen Zionis.

Kategori ini datang sendiri dari seorang profesor ilmu agama di North Park University, Don Wagner. Dalam penelitian dan buku yang ditulisnya, Wagner yang juga Direktur Pusat Studi Timur Tengah di universitas yang sama bahwa Kristen dan Yahudi selalu terkait dalam menjalankan aksi-aksinya. Salah satu dasar argumentasinya adalah statemen dalam Kejadian 12: 3-96 yang menyebutkan, “Aku akan memberkati mereka yang memberkatimu (Yahudi, red) dan aku akan mengutuk mereka yang mengutukmu.”

Menurut Wagner, orang-o-rang yang masuk dalam kategori Kristen Zionis ini adalah Pat Robertson, Jerry Falwell, Franklin Graham, Ralph Reed dan Gary Baeur. Lebih lanjut Wagner mengatakan, orang-orang tersebut di atas menerjemahkan Kejadian 12: 3-96 sebagai dukungan yang harus diberikan kepada Zionisme. “Mereka menginterpretasikan hal ini sebagai, setiap individu atau negara yang mendukung Israel maka akan diberkati oleh Tuhan. Ini artinya memberikan dukungan di berbagai bidang; politik, ekonomi dan dukungan moral kepada Israel tanpa kritik,” terang Wagner.

Kini terang pula bagi kita, bahwa tak hanya hitung-hitungan politik yang menghasilkan simbiosis mutualisme yang membuat Amerika dan Israel bersatu padu. Dalam ideologi mereka bersatu pula, menjadi Islam dan Muslim sebagai musuh-musuh mereka. Dan Allah telah mengabarkan hal ini sejak lama. Sesungguhnya, tak akan ridho orang-orang Yahudi dan Nasrani sebelum kita mengikuti jalan mereka. Rabbana anta maulana fanshurna ala kaumil kafirin.

Herry Nurdi
majalah Sabili


Sumber: swaramuslim.com

Ada apa dengan film "Passion of Christ" di Trans TV?

Oleh : Erros Jafar 18 Mar, 05 - 8:50 am



imageAkhir akhir ini banyak kita temui email email pribadi yang menginformasikan rencana penayangan film "The Passion of Christ" pada tanggal 25 Maret 2005 dari jam 19.00 s/d 22.00 mendatang di Trans TV.

Berita ini antara ada dan tidak ada ! Sebab di situs Trans TV sendiri ternyata tidak di iklankan secara formal - hanya saja memang terdapat jadwal acara yang agak janggal. Acara Bajaj Bajuri yang biasanya hanya berdurasi 1 jam di jadwalkan 2 jam.

Kejanggalan tersebut ternyata tidak bisa ditutupi, dalam situs resminya Perpustakaan Nasional RI secara resmi rencana penayangan tersebut dimasukkan kedalam Info Agenda Kegiatan, Passion of the Christ memperingati hari wafat Isa Al Masih

Perpustakaan Nasional RI adalah sebuah badan resmi Republik Indonesia yang berpenduduk mayoritas 95% Muslim, lalu begitu cerobohnya terjebak kedalam suatu kegiatan yang kontroversial ini.

Pertanyaannya :


1. ada apa dengan Perpustakaan Nasional RI? Apakah memang sudah kesusupan pihak pihak tertentu ?
2. Apa kaitannya Perpustakaan Nasional RI itu ? dengan Kegiatan Pemutaran Film Agama ?
3. Lalu pihak manakah yg mereka takutkan ? Umat Islamkah ?
4. Atau Umat Yahudi ? dikarenakan film tersebut sempat menjadi Kontroversi di AS tahun lalu yang dianggap memojokkan etnis Yahudi, shg film tersebut sempat di cekal oleh badan badan Film di dunia yag memang dikuasai Yahudi.

Mengenai status siapa yang di Salib, umat Islam sudah jelas sebagaimana Al-Qur'an surah Annisa ayat 157 dan 158 disebutkan sebagai berikut:
"Dan karena ucapan mereka: Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh tu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi yang sebenarnya, Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Salam

Erros Jaffar

Berikut ini saya kirimkan isi berita yang di publish di situs http://kmbi.gkps.or.id/ , berikut petikannya :

PASSION OF THE CHRIST on TRANS TV

Saya ingin memberitahukan bahwa dalam rangka memperingati wafatnya Yesus Kristus pada bulan Maret ini, maka salah satu stasiun TV Nasional kita akan
menayangkan :

Film The Passion of Christ pada jadwal berikut ini :

Hari, Tanggal : Jumat , 25 Maret 2005
Pukul : 19.00 - 22.00 wib.
Channel TV : Trans TV.

Tetapi dikarenakan informasi tsb tidak disebarluaskan dan iklankan, maka kami mohon bantuan saudara-saudari untuk memberikan informasi tsb dengan cara menyebarkan email ini dan juga pemberitahuan lisan kepada teman2 lainnya yang tidak mengetahui hal tsb

Selain itu juga, kami mohon bantuan doanya agar penayangan film tsb dapat berjalan dengan lancar karena film tsb mengandung unsur agama Kristen, kiranya dapat diterima oleh saudara-saudari agama lainnya di Indonesia.

Atas bantuan dan doanya, saya mengucapkan terima kasih yang sedalam2 nya kepada saudara-saudari, kiranya Tuhan Memberkati. Amin.

Best Regards,
Jepri
Procurement Dept.

[jesripurba(at)gratianet.com]


Official website of The passion of Christ :
http://www.thepassionofthechrist.com/skip.html

Kontroversi Film The Passion of the Christ


imagePada beberapa pekan yang lalu, film The Passion of the Christ telah memecahkan rekor penjualan film The Lord of the Rings yang menjadi pemenang Oscar ini. film kontroversial karya Mel Gibson ini telah berhasil meraup pemasukan sebesar 125,2 juta dollar Amerika dalam lima hari pertama dan merupakan film paling laris pada beberapa tahun terakhir. Fenomena ini terjadi di saat gelombang protes dan pujian terhadap film ini terus berlanjut. Salah satu kritikan datang dari Franco Zeffirelli, seorang sutradara film terkenal Italia yang sering membuat film-film bercorak religius. Zeffireli menyebut Gibson sebagai seseorang yang haus darah dan ia mengkritik film karya Gibson karena dipenuhi dengan adegan kekerasan dan pertumpahan darah. Di pihak lain, Kevin Costner, aktor dan sutradara terkenal Hollywood memberikan dukungannya kepada Gibson dan meminta para pengkritik untuk menghentikan hujatan mereka.

Kaum ruhaniwan juga turut melontarkan pandangan mereka yang terpecah dua. Sekelompok ruhaniwan yang berpaham Yahudi ekstrim mengkritik keras film ini dan menginginkan supaya film ini dilarang peredarannya. Menurut mereka, film ini menonjolkan kesalahan orang-orang Yahudi yang menyebabkan Isa Al Masih diseret ke tiang salib. Sekelompok ruhaniwan lainnya, terutama kalangan Kristen, mendukung film ini dan menyatakan sebagai film yang bersesuaian dengan sejarah.

Sebagian pengamat menilai, film ini berhasil meraih untung besar karena strategi pemasaran brilian yang dilakukan Gibson. Sebelum diputar untuk umum, film tersebut dipertunjukkan di depan untuk para kardinal dari Vatikan untuk meminta restu. Akibatnya, rasa ingin tahu masyarakat menjadi semakin besar dan itulah yang membuat film ini laris terjual di berbagai negara. Di Amerika saja 2800 bioskop memutar film ini dan akan dilanjutkan dengan pemutaran di seluruh Eropa.

Sekitar satu dekade lalu, di saat Mel Gibson mengalami puncak depresi jiwa, kecanduan narkoba, dan memiliki kecenderungan untuk bunuh diri, ia mulai mempelajari Injil untuk menyelamatkan diri. Selepas itu, selama bertahun-tahun dia berfikir untuk membuat sebuah film mengenai kehidupan Isa Al Masih. Akhirnya, beberapa tahun kemudian, dengan mengeluarkan bujet sebesar 25 juta dolar Amerika dari kantongnya sendiri, Gibson memulai pembuatan film The Passion of the Christ. film ini menceritakan kisah 12 jam terakhir dari kehidupan Isa Al Masih yang menurut kepercayaan orang-orang Kristen, Nabi Isa telah disalib. Dalam proyek ini, Gibson menjadi produser, sutradara, dan salah seorang dari tim penulis skenario. Menurut Gibson yang menganut agama Katolik ini, naskah film tersebut benar-benar dibuat sesuai dengan isi teks asli Injil. Dari sisi inilah ia mendapat dukungan dari masyarakat Kristen.

Bahasa yang digunakan dalam film ini adalah gabungan antara bahasa Latin, Ibrani dan bahasa kuno Aramaic dengan pencantuman teks terjemahan dalam bahasa Inggeris. Di AS, film ini dikategorikan dalam jenis “R” karena isinya yang penuh dengan kekerasan dan pertumpahan darah. Salah seorang pemirsa film ini berkata, “The Passion of the Christ adalah sebuah film yang sarat dengan darah dan saya rasa itulah yang difahami oleh Gibson mengenai pembuatan film.” Namun, Gibson menolak kritikan itu dengan menyatakan, “Realitas yang digambarkan oleh film ini berlandaskan kepada Injil dan kenyataannya, memang orang-orang Yahudi pada zaman Isa Al Masih keras hati dan tidak berperi kemanusiaan seperti apa yang ditunjukkan oleh film ini.”

Masalah inilah yang menimbulkan gelombang protes meluas terhadap film tersebut. Orang-orang Yahudi mengkritik keras adegan film ini yang menyebutkan bahwa merekalah pembunuh Isa Al Masih. Atas tekanan keras dari kaum Yahudi itulah, Gibson terpaksa memotong salah satu dari bagian penting film ini, yang berisi adegan tokoh Kaina yang mengatakan bahwa tanggungjawab atas tumpahnya darah Isa Al Masih terletak pada bahu orang-orang Yahudi dan anak-anak mereka. Menurut pandangan orang-orang Yahudi, kata-kata ini merupakan tuduhan bahwa mereka adalah pembunuh nabi Isa dan dosa itu dipikul oleh orang-orang Yahudi sampai hari ini.

Dalam pembelaannya atas banyaknya adegan kekerasan yang muncul dalam film ini, Gibson menyatakan bahwa adegan itu diperlukan untuk menyadarkan para pemirsa yang berada di tepi jurang. Mereka perlu menyadari akan keagungan pengorbanan besar yang telah dilakukan oleh Isa Al Masih pada detik-detik terakhir dari kehidupannya. Salah seorang pendeta Kristen setelah menonton film ini mengatakan, “Menurut kepercayaan kami, kesulitan dan penderitaan yang ditanggung oleh Isa Al Masih dalam kehidupan singkatnya, merupakan kristalisasi penderitaan, kesulitan, dan kekejaman yang disaksikan oleh manusia di sepanjang sejarah.” Sebagian besar penganut agama Kristen setelah menonton film ini, menilai bahwa film tersebut dibuat berdasarkan kepada empat Injil Luka, Yuhana, Marcus, dan Matius. Menurut mereka, pada film ini tidak terlihat titik yang bertentangan dengan sejarah.

Seorang pemimpin ekstrim rezim Zionis meminta supaya film ini dilarang diputar. Dia mengatakan bahwa film ini memicu sikap anti semit dan karena itu, sekurang-kurangnya film ini tidak boleh ditayangkan di Palestina. Sebaliknya, penasihat Paus Paulus II di bidang media massa, memberikan argumen bahwa film ini tidak memicu kebencian terhadap orang-orang Yahudi, karena tokoh-tokoh dalam film itu, termasuk Isa Al Masih, Sayyidah Maryam, dan kelompok Hawariyun, semuanya adalah bangsa Yahudi.

Di antara semua kontroversi ini, ada beberapa kesimpulan yang bisa kita ambil. Pertama, kontroversi yang timbul dari film ini tak lebih dari strategi bisnis yang telah diperkirakan Gibson untuk meraih keuntungan besar dari filmnya. Kedua, apa yang dapat disaksikan oleh setiap pemirsa dalam film ini mengingatkan kepada aksi kejam dan tidak manusiawi yang dilakukan Rezim Zionis dalam merampas hak rakyat Palestina. Dengan alasan ini pulalah rezim Zionis amat menentang pemutaran film ini. film The Passion of the Christ menyampaikan sebuah pesan penting yang mungkin tidak disadari pembuat film ini, yaitu bahwa penderitaan besar yang terpaksa ditanggung oleh Isa Al Masih akibat perlakuan para pendeta Yahudi sama seperti penderitaan bangsa Palestina yang dijajah oleh Rezim Zionis. Selain itu, mengingatkan pula kepada perilaku kaum Yahudi sepanjang sejarah yang selalu ingkar dan bahkan membunuh nabi-nabi mereka.

Ketiga, film ini tidak diakhiri dengan realitas yang sesuai dengan pandangan agama Islam. film ini diakhiri dengan tersalibnya Isa Al Masih padahal dalam Al Quran surah Annisa ayat 157 dan 158 disebutkan sebagai berikut:

“Dan karena ucapan mereka: Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh tu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi yang sebenarnya, Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
http://www.irib.ir/worldservice/melayuRADIO/perspektif/2004/maret04/christ.htm


Sumber: swaramuslim.com

Ba’asyir, Burks, dan Bush

Katagori : Untold Story / the X files
Oleh : Redaksi 08 Feb 2005 - 6:25 am


imageimageOleh : Riza Sihbudi*
Dua bulan lalu barangkali tidak ada orang Indonesia yang mengenal nama Frederick Burks (kecuali mereka yang mengenalnya secara pribadi), walaupun ia pernah lama tinggal di Kalimantan dan menguasai dengan sangat fasih Bahasa Indonesia (selain Spanyol dan Mandarin). Dalam beberapa hari terakhir ini nama dan gambarnya terpampang di hampir semua media cetak terkemuka di Indonesia, seperti Republika, Koran Tempo, dan Kompas. Wajah pria jangkung kelahiran Amerika Serikat 46 tahun lalu itu pun sempat muncul di sejumlah stasiun televisi. Bahkan MetroTV dan SCTV secara khusus mewawancarai Burks pada Jumat, 14 Januari 2005 lalu.

Pada hari yang sama Burks juga tampil sebagai pembicara tunggal di forum diskusi yang diadakan Pusat Penelitian Politik LIPI dan the Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) Jakarta, dengan tema “Mengungkap Kebohongan Bush.” Tidak disangka, acara yang diadakan secara mendadak dan bahkan penyebaran undangannya hanya lewat SMS (pesan pendek) ini pun ternyata menyedot banyak perhatian dari kalangan akademisi dan profesional, sehingga ruangan berkapasitas 50-an orang itu pun penuh sesak.

Kenapa nama Fred Burks mendadak “populer” di Indonesia?

kPertama, tentu karena kesaksiannya dalam sidang kasus “terorisme” dengan terdakwa Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (amir Majelis Mujahidin Indonesia) di Gedung Departemen Pertanian, Ragunan, Jakarta, (13 Januari 2005). Dalam sidang itu, Burks antara lain mengatakan bahwa Pemerintah George W Bush pernah meminta agar Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) ditahan dan diserahkan ke AS. Permintaan AS itu, menurut Burks, disampaikan utusan khusus Bush kepada Presiden Republik Indonesia (saat itu) Megawati Soekarnoputri dalam pertemuan rahasia di Jalan Teuku Umar Jakarta (rumah pribadi Megawati), September 2002.

Pernyataan Burks di sidang ABB itu sebenarnya tidak ada yang baru.

Dalam berbagai kesempatan, dua atau tiga tahun lalu, saya sudah sering mengungkapkan adanya ntervensi pemerintahan AS dalam berbagai kasus “terorisme” di berbagai negara, termasuk Indonesia (lihat misalnya, opini Republika, 7 Oktober 2002, dan Koran Tempo, 25 Maret 2002). Hanya saja pernyataan itu menjadi istimewa lantaran keluar dari seorang Fred Burks yang sejak 1996 berprofesi sebagai penerjemah di Departemen Luar Negeri AS, dan sempat pula menjadi penerjemah Presiden AS, dari Bill Clinton sampai Bush. Artinya, pernyataan itu keluar dari seseorang yang memiliki otoritas yang tak perlu diragukan lagi.
Tentu bukan hanya itu. Burks yang sejak 2002 mengelola media alternatif dalam bentuk website bernama wanttoknow.info dan membangun jaringan internasional yang berupaya mengungkap kebohongan rezim Bush dalam kasus 11 September 2001, memiliki data-data yang sangat valid dan akurat. Data-data itu ia peroleh selama bertahun-tahun bekerja di Deplu AS serta interaksinya dengan puluhan elite politik, ekonomi, intelijen, maupun militer di negaranya. Dengan kredibilitasnya itu, apa yang dikatakan Fred Burks jelas bukan sekadar ”teori konspirasi” seperti yang selama ini dituduhkan sementara kalangan terhadap orang-orang seperti saya yang tidak pernah percaya pada ”versi resmi” kasus-kasus terorisme, khususnya 2001-2004.

Kasus Ustadz ABB, misalnya, sudah terang benderang mengandung banyak kejanggalan. Begitu pula kasus-kasus Bom Kuningan 2004, JW Marriot 2003, Bali 2002, dan—tentu saja-- 11 September 2001. “Versi resmi” yang, kendati tak didukung data-data yang valid dan akurat, berhasil “menyihir” opini dunia-ironisnya tak hanya kalangan awam melainkan juga kalangan akademisi dan intelektual—bahwa para pelaku aksi-aksi teror
(2001-2004) itu adalah Jamaah Islamiyah (JI) dan Alqaidah. Jika dibaca secara luas, pelaku aksi-aksi teror besar 2001-2004 adalah umat Islam, sebab kedua ”organisasi” itu dipimpin oleh tokoh-tokoh muslim, yaitu Abu Bakar Ba’asyir dan Usamah bin Ladin.

JI, Alqaidah dan Usamah masih banyak diselimuti misteri (menurut Burks, bukan tak mungkin mereka bikinan CIA). Tapi, tidak demikian halnya dengan Ustadz ABB. ABB adalah seorang ustadz yang jelas latar belakangnya, lantaran mengabdikan lebih dari separuh hidupnya untuk kepentingan dakwah Islam. ABB memang pernah terusir karena melawan rezim Soeharto, namun ABB jelas bukan satu-satunya penentang penguasa Orde Baru itu. Benar bahwa ABB secara konsisten memperjuangkan tegaknya Syariat Islam di Indonesia yang—seperti dikatakan Ketua Muhammadiyah Syafii Maarif—mungkin saja kurang sejalan dengan “mainstream” umat Islam di republik ini. Tapi, menyejajarkan ABB dengan Usamah (juga Hambali dan Umar Faruq, “dua tokoh JI” versi AS), jelas sangat tidak masuk di akal sehat.

Seorang teroris tentu tidak akan pernah tampil di depan publik, melainkan akan terus berpindah dari satu persembunyian ke persembunyian lainnya seperti yang kini dilakukan Dr Azahari dan Noordin M Top, atau Imam Samudera, Amrozi, dan kawan-kawannya dulu. Ini jelas berbeda dengan ABB yang selalu tampil di depan publik, kecuali pada masa Orde Baru, lantaran terus diancam aparat Soeharto, sehingga ABB terpaksa
”bersembunyi” di Malaysia. Namun, selama di Malaysia pun keberadaan ABB bukan sama sekali tak bisa dipantau. Dengan kata lain, jika ia seorang ”teroris”, ABB tentu tidak akan menjalani kehidupan sehari-harinya seperti selama ini (sebelum dijebloskan ke penjara atas dakwaan pelanggaran imigrasi).

Tapi, kenapa rezim Bush terus menekan Jakarta agar tidak membebaskan ABB (kesaksian Syafii Maarif) dan bahkan pada 2002 meminta Megawati agar menyerahkan ABB ke AS (kesaksian Fred Burks)? Jawabannya tentu tidak terlalu sulit. Jika pengadilan Indonesia tak mampu membuktikan keterlibatan ABB dalam kasus “terorisme Islam” maka seluruh skenario rezim Bush tentang JI di kawasan Asia Tenggara menjadi buyar, dan itu artinya mereka pun gagal menjadikan “terorisme Islam” sebagai momok baru yang menakutkan bagi bangsa-bangsa Asia Tenggara. Oleh sebab itu, rezim Bush berkepentingan agar Ustadz ABB terus mendekam di penjara, bahkan jika mungkin diekstradisi ke AS.

Maaf, jika saya terpaksa menggunakan istilah ”rezim Bush,” karena seperti dikatakan Fred Burks, Bush dan konco-konconya pada hakikatnya mengembangkan sistem politik dan pemerintahan yang otoritarian dan diktatorial ala Soeharto dulu. Sebuah karikatur yang dimuat majalah Kanada, Global Outlook (edisi Fall 2004/Winter 2005, hlm 65) misalnya, menggambarkan Bush yang sedang memeluk bola dunia sebagai seorang “The Great Dictator.” Bahkan, seperti dikatakan Fred Burks dalam diskusi di LIPI dan ISMES, 14 Januari lalu, rezim Bush tak segan-segan untuk menghalalkan segala cara, termasuk mengorbankan ribuan warga sipil demi mencapai tujuan dan ambisi politik dan ekonomi mereka.

Jadi, jika terorisme dipahami sebagai sebuah aksi bermotif politik dengan mengorbankan nyawa warga sipil, maka orang pun tahu siapa yang paling layak disebut sebagai teroris nomor satu dunia. Presiden Goerge W Bush tidak hanya bisa dianggap bertanggung jawab atas pembantaian sekitar 24 ribu warga sipil di Afghanistan (2001-2004) dan sekitar 37 ribu warga sipil di Irak (2003-2004), melainkan juga tiga ribuan warga sipil AS sendiri pada 11 September 2001 dan dua ratusan warga sipil Australia di Bali pada Oktober 2002.

Memang, bukti-bukti keterlibatan langsung rezim Bush dalam kasus Bali (juga JW Marriot dan Kuningan) belum banyak diungkapkan. Namun, dalam kasus 11 September 2001, sudah puluhan buku dan ratusan artikel di media cetak dan internet baik yang ditulis oleh orang-orang Eropa maupun AS sendiri yang terang-terangan menuding keterlibatan langsung rezim Bush dalam tragedi WTC itu. Lihat, misalnya, buku-buku The New Pearl Harbor (karya David Ray Griffin), 9-11 (Noam Chomsky), The Big Lie (Thierry Meyssan), The High Priests of War (Michael Collins Piper), Stranger Than Fiction (Albert D Pastore), The Lies of George W Bush (David Corn), The Terror Time Line (Paul Thompson), dan 911 Synthetic Terror Made in USA (Webster G Tarpley).

Menurut Fred Burks, sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menebak siapa pelaku dari setiap aksi terorisme berskala besar, khususnya sepanjang periode 2001-2004 yaitu, dengan melihat siapa pihak yang paling diuntungkan dari setiap kejadian itu. Umat Islam merupakan pihak yang paling dirugikan dari aksi-aksi terorisme 2001-2004. Oleh sebab itu, sangat tidak masuk akal menuding umat atau negara-negara Islam sebagai pelaku atau pendukung aksi-aksi terorisme. Burks dan hampir seluruh penulis Barat lainnya yang menolak “versi resmi” rezim Bush dalam kasus WTC, umumnya sepakat menuding kaum neokonservatif (neocon) yang bekerja sama dengan jaringan mafia Zionis (bukan Yahudi, karena banyak umat Yahudi yang menentang Zionisme) sebagai pihak yang paling diuntungkan dari aksi-aksi terorisme 2001-2004.

Sejak kemenangan Bush tahun 2000, kaum neocon dan Zionis sepenuhnya mengendalikan politik dan pemerintahan AS, dengan tokoh-tokohnya seperti Dick Cheney, Donald Rumsfeld, Paul Wolfowitz, Richard Perle, Douglas Feith, dan Condi Rice. Lebih dari itu, mereka pun kini mengendalikan sektor ekonomi dan media massa di AS. Semua media besar di AS ada di bawah kendali mereka. Tak ada satu pun media besar di AS yang berani menolak “versi resmi” rezim Bush dalam kasus WTC. Akibatnya, kalangan intelektual dan aktivis AS yang tak sepaham dengan rezim Bush terpaksa membuat media alternatif seperti yang dilakukan Burks dan kawan-kawannya. “Situasinya mirip Indonesia era Soeharto,” kata Burks.

Kehadiran Fred Burks di Jakarta, tentu diharapkan tidak hanya akan meringankan Ustadz ABB, melainkan juga diharapkan dapat membuka mata kita semua khususnya yang menyangkut kebohongan-kebohongan rezim Bush dalam isu terorisme global. Burks benar, bahwa perjuangan menegakkan nilai-nilai kebenaran dan demokrasi yang hakiki tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Burks mengakui bahwa dirinya tidak sepenuhnya setuju dengan pandangan keagamaan yang dianut Ustadz ABB. Tapi, setidaknya dalam satu hal mereka sepakat, yaitu melawan kediktatoran dunia di bawah cengkeraman rezim Bush. Burks lebih ”beruntung” lantaran tidak direnggut kemerdekaannya seperti Ustadz ABB, namun ada baiknya jika Fred Burks juga selalu mengingat ucapan Rosiana Silalahi (Liputan 6 SCTV, 14 Januari 2005), ”Hati-hati, banyak orang yang mengkhawatirkan keselamatan Anda”. Wallahualam bissawab. (RioL)

*Ahli peneliti utama LIPI


Sumber: swaramuslim.com